Kamis, 31 Juli 2014

Kau Jahat !!!


Apa aku pantas menyebutmu jahat ? Apa aku pantas tetap memberimu senyum ketika kau hadir seperti ini ?



Apa boleh aku berkata jika kau bertindak semaumu, pergi semaumu, mengingatku semaumu, dan melupakanku semaumu pula.



Tapi banyak yang harus kau tahu. Ketika setiap kali aku menangis saat otak ini tak mampu menghilangkan bayanganmu, Ketika hati ini menanyakan kabarmu, Dan ketika raga ini tak mampu lagi berdiri tegak saat memandang senyummu dalam bingkai foto itu.



Ketika setiap kali aku tersenyum mendengar desah suaramu yang sama sekali tak indah, ketika kau mulai membual dengan kata-kata yang sederhana saat kumulai enggan untuk tertawa, ketika kau menyapaku saat aku mulai merasa kehilanganmu.



Seolah-olah engkau hadir membuatku tersenyum lantas engkau pergi, walau aku tau kau tak akan pergi selamanya. Kau hanya pergi untuk sementara, entah untuk apa yang tak pernah aku tau.



Terkadang aku bertanya pada hatiku,"apa kau mempermainkanku?"



Hati kecilku menjawab,"tidak. Tidak akan"



"Apa kau akan menyianyiakanku?"



Lagi lagi jawaban itu,"tidak. Tidak akan"



Dan ketika kuingin bertanya,"apa kau akan meninggalkanku?"



Hati kecilku masih saja menjawab,"tidak. Tidak akan"


Lantas, haruskah aku percaya dengan hati kecilku ? Iya, aku harus percaya. Bagaimana mungkin bertahan ketika kepercayaan itu mulai tergerus oleh terpaan hujan. 

Aku yakin dan akan tetap yakin. Kau tak akan pergi lagi meninggalkanku. Kau tak akan menghilang lagi. Kau akan kembali lagi untukku.

Yang terpenting, kau disini sekarang, disisiku dan akan tetap disisiku. Kita akan berjalan bersama, bergandengan tangan menjemput mimpi kita. Kita aku bersama, saling merangkul dalam doa.

Rabu, 16 Juli 2014

Biar Saja !!!

Aku terbangun bersama kokok ayam. Aku tenggelam bersama datangnya senja. Tapi aku di sini masih denganmu dan dengan rasaku yang mendalam untukmu. Namun, semakin dalam rasaku tenggelam dan merasuk dalam kalbu. Duri-duri di tangkai mawarpun menyertainya. Duri yang menusuk tanpa permisi. Duri yang melukai dan menyakiti.

Mungkin tak seorangpun menyadarinya. Bahkan kaupun tak akan mengerti. Akupun berusaha memalingkan hati dan mataku darinya. Dia yang kusebut duri, menusuk dan melukai. Dia tidak akan menduduki tahtamu di hati ini, tapi aku takut dia menduduki tahtaku di hatimu. Aku tak ingin rasa takut ini menguasaiku. Sungguh tak ingin.

Tiapku melihatnya, sakit itu menusuk dan membuat hatiku menangis. Biarlah aku yang mengerti dan memendamnya sendiri tanpa perlu kau tahu. Perbincanganmu dengannya seringkali tak enak untuk sekedar berlalu lalang di gendang telinga ini. Seakan mengantarkan getaran yang semakin menyesakkan dada.

Inginku berpaling, inginku berkata, inginku menangis kepadamu. Tapi itu semua tak kulakukan. Walau sakit, walau perih, biarlah. Biar saja hatiku menangis, asalkan aku masih punya sejuta senyum untukmu. Biarlah air mata ini mengalir di gelapnya malam tanpa secercah cahaya lampu dan sujudku di atas sajadah itu. Biar saja senyumku menutupi semua luka yang menganga karena duri di tangkai itu. Biar saja..

Duduk bersila sembari menikmati senja bersama dinginnya hujan. Kutengadahkan kedua telapak tanganku untuk sekedar menikmati sedikit saja rintik hujan yang selalu bisa mandamaikan reaksi hati yang sedang bergejolak. Reaksi yang semakin cepat dan eksotermis karena duri itu. Bulir-bulir bening itu seolah mengerti segala konflik batin yang ada.


Kau dan duri tak akan mengerti luka di relung ini. Luka yang kadang membuatku ingin menangis bahkan menyerah. Tapi aku tak akan menyerah, sesakit apapun duri itu melukai, sedalam apapun ia menyayat, dan selama apapun dia bertahan sampai tangkai itu layu.

Rabu, 18 Juni 2014

Rinduku di Senja Kala Itu

Duduk bersila sembari menemani senja hati. merasakan warna temaram yang kian berbunar. secangkir kopi seperti biasa tak pernah terasa jemu. pahit terlalu manis seperti senyumanmu waktu itu. sekali menoleh meresapi keindahan. yang terpikir sejenak adalah sebuah kedamaian. aku melihat warna-warna langit semakin merindu. tak ubahnya seperti nyanyian jiwa kala itu. ingin kutemui cinta dan lepaskan rasa.

Senja ini kurasakan rindu yang begitu dalam, meresap jauh ke dalam. Seketika hujan mengerti akan rinduku. Kala itu bulir bulir bening menemani sepiku di sudut bangunan ini. Retina mataku tertuju pada bulir-bulir itu lantas aku memandangnya hingga jiwaku terbawa, terhanyut dalam satu demi satu rintik bulir itu.

Sinar redup di ufuk barat tak terlalu tinggi tertutup oleh awan-awan senja yang lembut, ingin menyentuhnya. Sesaat menghela nafas dalam karena tak mengerti ucapan arti kata indah. Langit semakin gelap dan malam semakin larut.

Aku ingin sedikit saja membuka lembaran lama. Lembaran yang tak ternoda, lembaran penuh senyuman. Ya.. aku selalu ingin memaknai setiap senyumanmu yang setiap saat kurindu. Lihatlah hujan diluar sana. Mereka bersama-sama menenangkan jiwaku. Mereka bergandengan tangan, menari di atas atap bangunan tempatku terlelap ini.


Tataplah luar dengan penuh ketenangan dan keihklasan, kau akan mengerti sebesar apa rinduku padamu. Mereka akan memberimu jawaban betapa merindunya aku. Bulir-bulir hujan yang selalu menenangkan hati ini dikala risau mulai hinggap.

Aku, Kamu, dan Kita

Pertemuan kita berawal dari sebuah surat. Hitam di atas putih, terbungkus kertas hijau, dan ada sebuah logo buku di pojok kanannya. Ketika kita bersama dalam detik dan helaan nafas yang sama membuka surat itu lantas tak lama terdengar teriakan yang melengking tajam. Di dalam surat itulah kita disatukan. Surat yang lebih indah dari hanya sekedar surat cinta, surat itu bertuliskan 'selamat anda lolos seleksi calon anggota PIR/KIR SMA NEGERI 1 SOOKO'.
Surat itu adalah pintu gerbang menuju perjuangan kita meraih prestasi. Surat itu perlambang masih banyak usaha keras yang akan kita beri untuknya. Sebuah amanah yang patut untuk diperjuangkan. Kita bersama merajut cinta, memadu kasih. Kita yang berbeda namun kita menjadi satu disini. Ya menjadi satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan.
Setahun berlalu begitu cepatnya, bak terpaan angin yang menyejukkan senja itu. Suka duka, pahit manis, dan tangis tawa mengiringi setiap langkah kita. Begitu banyak rajutan kisah yang kami buat. Kini saatnya kami menginjakkan kaki ke lantai selanjutnya. Hal ini berarti amanah yang kami emban akan lebih berat lagi.
Yaa senja itu di sebuah bangunan kokoh berwarna hijau sehijau dedaunan di pohon. Degup jantung saling berpacu, semakin lama semakin kencang. Disinilah kami akan tahu mau dibawa kemana arah kami berjuang di ranah ilmiah ini. Sepucuk surat dari sesosok berkarisma itu adalah penentuan. Sampailah sepucuk surat itu ditanganku. Hanya selembar putih memang. Tapi dari sanalah awal perjuangan kami di satu langkah lebih tinggi.
Aku masih ingat sekali satu kata yang tercetak tebal dan bergaris bawah itu. Hanya satu kata memang, tapi tanggung jawabku sangat besar di situ. Tapi inilah konsekuensi atas apa yang kupilih. Satu tahun masa keperiodean kami haruslah tercipta prestasi sesuai dengan apa yang kami targetkan.
Semua target tercapai, dan kami telah mampu menghasilkan beberapa karya ilmiah yang menyabet juara tingkat nasional. Suatu kebanggaan memang, kepuasan pula bagi kami. Tapi lepas dari itu semua, sesungguhnya ada satu hal yang lebih dari kata memuaskan. Satu hal itu yang tak pernah terbayangkan oleh kami. Berawal dari sebuah perjuangan. Rasa saling memiliki, saling menyayangi itu tumbuh dengan subur di dalam hati kami masing-masing.
Akhir perjuangan ditandai dengan adanya praktek kerja lapangan, biasa kami sebut sebagai PKL. PKL merupakan program kerja terakhir bendahara. Ini merupakan kontribusi terakhirku dimana aku ingin sekali memberikan sesuatu dengan sejuta kesan indah di dalamnya. Semuanya berjalan sesuai rencana. Sesuatu yang kuinginkan punya sejuta maknapun terwujud. Ini semua tak kulakukan sendiri, tapi bersama saudara-saudaraku di almamater hijauku ini.
Kontribusiku di periode ini telah usai, tapi bukan berarti aku meninggalkannya begitu saja. Ternyata beberapa diantara kami masih dipercaya untuk menjaga almamater ini. Tujuh dari 23 orang diamanahkan untuk menjadi dewan kehormatan, aku salah satunya.

Suatu kehormatan bagiku dan 6 temanku. Bagi kami itu amanah yang luar biasa. Karena disaat kami akan sibuk dengan segala problematika di akhir masa kami berseragam putih abu-abu, disaat kami berkutat dengan sekian banyak kertas dan buku, kami masih harus memerhatikan kinerja maupun kemajuan dari almamater hijau ini.

Bahkan hingga dibangku kuliah saat inipun, disaat aku berkecimpung dengan berbagai unsur kimia, reaksi kimia, dan lainnya. Aku beserta keenam temanku masih harus memantau keperiodean dibawah kami.

Satu pesan untukmu saudaraku "Jangan jadikan ini semua beban, kita semua saudara. Kita sudah merasakan pahit manis bersama. Jangan jadikan beban amanah dipundak kita. Meskipun kita terpisah oleh jarak, namun kita tetap satu. Jaga almamater hijau yang tercinta ini"








Semangka Kuning

Apa yang terlintas di benak kalian ketika membaca judul di atas ? Biasa saja ? Ataukah ada makna berarti ?

Bagiku semangka kuning adalah perpaduan antara pahit dan manis, suka dan duka, tangis dan tawa. Darinya aku mendapat banyak sekali makna kehidupan. Ia membawaku begitu dekat dengan seseorang yang teramat kusayang. Beliau adalah superheroku yang pertama kali melantunkan asma Allah di daun telinga mungil ini.

Semangka kuning membuatku rindu akan belaian itu. Aku teringat masa kecilku yang sungguh indah. Dalam dekapannya aku selalu berdoa. Dalam pangkuannya aku selalu ingin bercerita. Bahkan dalam lelapku aku ingin selalu bersamanya.

Namun, kini sosok itu tak terlihat lagi. Kedua matanya terpejam, tubuhnya terbujur kaku, dan suhu tubuhnya menurun drastis. Bahkan aku tak melihatnya di kala senja itu. Senja yang selalu kunantikan kehadirannya. Karena bersama senjalah beliau datang memelukku, melayangkan kecupan hangat di dahi dan pipiku, dan membawa kedamaian dalam hati ini.

Senja itu merenggutnya dariku. Aku tak rela, sungguh. Aku masih ingin merasakan pelukannya, mendengarkan ceritanya, dan aku masih ingin sekali bersamanya hingga kelak aku menjadi orang. Agar aku bisa membalas setiap sakit yang kuberi dengan obat yang kupunya. Agar aku bisa mengobati setiap luka yang kuberi dengan balutan kasih sayangku yang tak sebesar kasih sayangnya. Agar aku bisa mengganti setiap bulir air matanya dengan senyumanku. Agar aku selalu bisa memberinya semangka kuning, walau hanya sepotong yang biasanya selalu kau bagi denganku. Tapi tidak untuk kali ini, Potongan itu hanya untuk beliau. Satu potongan itu tak akan mampu menjelaskan betapa sayang dan merindunya aku akan sosok gagahmu.

Kini ragamu tak mampu kulihat lagi. Kau telah menutup matamu untuk selama-lamanya, menghilang, dan tenggelam. Kau lebih memilih menghadiri undangan sang maha pencipta di alam sana. Kau tak bersamaku lagi dalam nyata ragamu, tapi kuyakin kau selalu ada di hati ini. Di relung hati yang tak seorangpun mampu menggantikannya. 

Mungkin kau tak lagi bisa melihatku dengan kedua bola matamu yang indah, mungkin kau tak lagi bisa memberikanku pelukan hangat, dan mungkin kita tak lagi bisa berbagi sepotong semangka kuning itu berdua. Tapi kau selalu melihatku dengan hatimu, memberiku pelukan hangat dengan doamu, dan kelak kita akan tetap berbagi sepotong semangka kuning di sana. Ya di peristirahatan terindah bersama-Nya di sana.

Inilah sepenggal kerinduanku pada sosok ayah. Semangka kuning adalah saksi nyata betapa eratnya kami. Untuk kalian semua, ingatlah walau ayah tak melahirkanmu, tak berjuang nyawa ketika membawamu menatap dunia. Tapi lihatlah betapa gagahnya ayah kalian yang rela berkorban apapun demi kalian, anaknya. Siang malam beliau berjuang untuk kebahagiaanmu dan orang-orang yang beliau sayang. 

Sadarkah kalian betapa hangat pelukannya, betapa indah senyumannya diiringi dengan cucuran keringat di dahinya. Bahkan ayah selalu rela namanya dipanggil pada urutan keempat setelah posisi satu, dua, dan tiga diisi oleh ibu.

Beruntunglah kalian yang masih memilikinya, masih bisa mendekap erat tubuhnya, masih bisa mendapatkan senyum terindahnya setiap saat. Jaga beliau dan jangan sia-siakan. Beliau adalah penopang hidup. Tanpanya kau tak akan melihat dunia secerah ini.

Minggu, 15 Juni 2014

Reaksi Hati dan Batin

Waktu hanya bergulir tanpa pernah menjawab semua tanya Rara. Sampai detik inipun, semua masih sama. Masih mengundang tanya dan air mata. Mungkin Rara sudah tak mengerti apa yang seharusnya ia lakukan. Tanya itu hanya berputar-putar tanpa ada jawabnya.

Rara masih menyimpan rasa yang sama dan tak akan berubah. Tapi Rara takut, Rara ragu akan dia. Ya.. dia yang selama ini Rara sebut dalam sujudnya. Dia yang memiliki sekian jawaban dan semua tanya hati Rara. Dia yang membuat Rara selalu tersenyum walau kadang air mata yang mewakili senyumannya.

“Yakinkan aku. Kuatkan aku”, mungkin hanya itu yang Rara minta.

Namun si laki-laki berkemeja abu-abu itu tak pernah menyadari. Mungkin saja. Rara sama sekali tak pernah mengerti isi hati si manis itu.

“Apakah rasaku dan rasanya masih sama ? Ataukah sudah tak ada lagi rasa itu? Atau malah sudah tergantikan?”, ketakutan Rara semakin membabi buta hari-harinya.

Rara butuh jawaban atas semua tanyanya. Yaa.. jawaban yang mampu menenangkan kegundahan hati yang selama ini memicu air matanya untuk mengalir lagi dan lagi.

Hari ini, ya.. hari ini. Tubuh Rara melemah. Ia terbaring lemah di atas kain hijau sehijau rumput di taman, bergambarkan boneka kesukaan Rara. Ia hanya terbaring, terdiam, merintih, dan menangis. Mungkin kesakitannya tak mampu mengalahkan rasa sakit karena luka di hatinya. Tapi sakitnya cukup menambah sekian luka yang telah menganga. Dengan sangat terpaksa Rara harus menelan beberapa butir obat yang notabennya pahit walau tak sepahit liku kehidupannya.

Rara mencoba untuk duduk di sudut petak itu sembari memandangi kaca jendela yang membawanya melayang, memandangi rintik hujan di luar sana. Rintik hujan itu membawa jiwanya pergi entah kemana. Membawanya mengingat, mengenang, bahkan mungkin menangis untuk kesekiankalinya.

Butiran – butiran bening itu membasahi sedikit lengannya yang sempat ia tengadahkan ke luar untuk sedikit saja merasakan sejuknya butiran bening kesukaannya itu.

Rara memang menyukai hujan. Ia akan merasa lebih tenang ketika butiran bening penuh ketenangan itu membasahi sedikit saja tubuhnya yang mulai lemah. Walau ia tahu butiran bening itu mampu membawa khayal dan jiwanya pergi. Pergi sejenak tuk mengenang sosok itu. Ya.. sosok yang ia sayang yang entah dimana kini.

“Apa kabar hatimu sayang? Masih adakah rasa itu untukku ?”, desah lembut gadis itu.

Desah suara itu takkan terdengar oleh siapapun. Suara itu hanyut, tenggelam oleh suara gemericik air dari langit biru di atas sana. Tenanglah, begitu banyak saksi bisu yang menyaksikan dan mendengarkan. Merekalah saksi kerinduan Rara akan sosok itu. Rindu yang selalu menghampirinya tak kenal waktu. Mereka akan tetap menjadi saksi bisu yang mampu menyimpan segala rahasia ini entah sampai kapan akan menjadi sebuah rahasia.

“Aku rindu, aku benar-benar rindu”, ucapnya di tengah rintik hujan yang mulai mereda.

Butiran bening lainnya mulai menetes dari binar matanya. Bukan butiran air mata perlambangan kelemahannya. Justru air mata perlambang kekuatan dan ketegarannya menyimpan segala rasa yang berkutat di hatinya. Air mata perlambang bahwa ia tak mampu lagi meredam kerinduan.

Ketika ia tak mampu lagi meredam semuanya, yang tersisa adalah kejujuran dari bola matanya. Ya.. kini hanya matalah yang mampu berkata. Sepelik apapun itu semua, sekuat dan setegar apapun Rara menyimpannya. Mata tak akan bisa dibohongi. Ia akan selalu berkata jujur.

“Ya Allah, jaga dia, jaga hatinya, bahagiakan dia. Aku menyayanginya”, sebaris doa yang ia pintakan ditengah rintik hujan yang membasahi lengan kanannya.

Rara tak pernah sekalipun melupakan atau bahkan menghapus si manis itu dari sujud maupun barisan doanya yang setiap saat ia mohonkan kepada sang pembolak-balik hati manusia. Rara yakin dan sangat yakin bahwa Dia tak akan menyia-nyiakan setiap doa yang ia lantunkan dengan tulus, walau ia tak pernah tahu apa yang ada pada sosok si kemeja abu-abu itu.

Apakah sosok itu menyebutkan nama Rara di setiap sujudnya atau hanya sebatas mendoakan atau bahkan tak sama sekali ada Rara dalam barisan doanya ? tak seorangpun tahu termasuk Rara, hanya Allah dan si manis itulah yang tahu.

Rara tahu bahwa ia telah membohongi banyak pihak. Ia telah menyembunyikan luka dibalik senyumnya yang retak. Namun tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain bertopeng dihadapan mereka semua bahkan dihadapan sosok yang selalu ada dalam setiap sujudnya di sepertiga malam itu.

“Aku hanya berharap kau takkan mengerti kepalsuan senyum ini”, ujar Rara dalam hatinya

“Aku selalu ingin melihatmu tersenyum kepadaku, senyum yang sama seperti senyum yang dulu. Iya senyum yang dulu kukenal dan tak seorangpun mampu memaknainya”, tambahnya dalam gumaman hati.

Memang Rara selama ini hanya berusaha berdiri tegak dan selalu tegar. Tapi cukup untuk diketahui, hatinya rapuh. Bak bongkahan kayu yang mulai habis termakan rayap.


Rara rapuh. Tapi Rara selalu berusaha sekuat dan setegar mungkin untuk menghadapi semua ini.  Beribu senyuman ia berikan untuk sosok itu, sahabat-sahabatnya, dan untuk semua yang ada di sampingnya. Walau semuanya hanya semu dan palsu.

Rabu, 04 Juni 2014

Jawablah Tanyaku !!!

Tujuh hari sudah Rara menjalani hari-harinya tanpa si kemeja abu-abu. Dalam tujuh hari itu pulalah Rara tak kunjung menghentikan derai air matanya. Selalu ada butiran-butiran air mata yang membasahi pipinya ketika teringat kisahnya dengan si manis itu. Laki-laki berkemeja abu-abu itu memberikan banyak sekali makna kehidupan dalam diri gadis berlesung pipi itu.
Saat ini Rara mulai lemah, mulai tak kuasa menahan segala tanya yang bergejolak dalam hati dan menggeliat dalam otaknya. Walau tanya yang tak akan pernah ada jawabannya. Pertanyaan yang mungkin lebih rumit dari hanya sekedar soal ujian kimia fisika yang selama ini dianggap monster oleh mahasiswa.
Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sangatlah sederhana. Sesederhana Rara menyayangi laki-laki manis itu. Namun, semua jawaban itu terasa sungguh rumit bahkan seakan tak mampu terjawab. Karena semua jawaban itu ada padanya. Yaa.. padanya yang selalu membuat Rara bahagia.
Rara menarik selimut dan bersiap menjemput mimpinya yang mungkin indah mungkin juga pahit. Tiba-tiba, telepon genggam milik Rara bergetar menunjukkan ada sebuah pemberitahuan. Nampaknya getar telepon genggam miliknya langsung memfokuskan kedua tangannya untuk meraih sumber getaran itu.
"Sabar dan istighfar itu saja pesanku. Jangan banyak mengeluh. Jika allah menakdirkan kita untuk bersama ya mengapa kita harus menghindar. Sabarlah, sesungguhnya Allah lebih mengetahui", sebuah pesan yang ia baca di sudut petak itu.
Tak habis-habisnya air mata Rara mengalir setelah tujuh hari berlalu. Air mata itu kembali membasahi rona pipinya. Air mata perlambang kerinduan yang mendalam akan sosok laki-laki berkemeja abu-abu itu. Sosok yang berarti dalam hidupnya. Sosok yang selalu mampu merekahkan senyum Rara.
"Saat aku rindu, aku lemah. Aku hanya mampu bersimpuh, menengadahkan kedua tanganku, mengagungkan sang Mahakuasa dan menyebut namanya dalam tangisku", ucapnya ditengah suara tangis yang memenuhi sudut-sudut kamar Rara.
"Jangan tinggalkan aku sendiri", hanya empat kata yang mampu Rara tulis sebagai balasannya.
Bahkan hanya sekedar untuk menggerakkan jari-jarinya pun Rara tak mampu. Tak ada yang mampu ia katakan, sesungguhnya hanya dia dan Allah yang tahu apa yang ada dalam isi hati Rara.
"Ra, are you okay?", Suara lembut seorang gadis keturunan Jawa-Sunda itu.
Keluh, bibir rara keluh. Tak mampu mengucap satu katapun. Ia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Isyarat bahwa ia baik-baik saja. Tapi pahamilah semua itu palsu. Mana mungkin isak tangis begitu kencangnya dikatakan baik-baik saja. Itu hanya sandiwara belaka.
Langkah kaki itu semakin mendekat, semakin membuatnya tak berdaya. Ingin sekali rasanya memeluk sahabatnya itu lalu bercerita. Tapi semuanya tak mungkin, sungguh tak mungkin. Rara tak punya ribuan energi untuk mengatakannya. Rara tak mampu. Hanya pelukan kecil yang mampu sahabat rara berikan untuknya, karena ia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi dengan rara.
Beberapa menit kemudian, telepon genggam miliknya bergetar.
"Aku nggak ninggalin kamu. Aku ada", satu pesan yang masih jelas terbaca walau mata Rara dipenuhi oleh butiran-butiran air mata.
Laki-laki berkemeja abu-abu itu tak akan pernah mengerti bagaimana isi hati Rara saat ini. Sejuta tanya yang selalu berusaha menyelinap mengganggu tidurnya. Sejuta tanya yang tak akan pernah terjawab. Sejuta tanya yang memenuhi relung hatinya ketika ia mengingatnya.
"Akankah kamu kembali? Akankah semua indah pada waktunya? Ataukah ini semua hanya salah satu dari ribuan alasanmu untuk meninggalkanku?", salah sekian tanya yang mungkin mampu terucap.
Entah sisanya ada dimana. Mungkin tersimpan di suatu ruang tertutup yang tak seorangpun bisa memasukinya. Tak seorangpun bisa mengerti akan hal itu. Merasuk terlalu dalam, sungguh sulit untuk mengeluarkannya. Terkadang emosi memuncak membuatnya menangis untuk keseliankalinya. Isak tangis yang menyesakkan dada, membuatnya berusaha begitu keras hanya untuk menarik sehela nafas.

Percayalah selalu ada kemudahan dalam ikhtiar ini. Selalu ada jalan dan penerang untuk kerisauan ini. Semuanya akan indah pada waktunya. Percayalah. Sungguh rasa ini akan tersimpan rapi dan akan tetap sama sampai saat itu tiba. Sungguh...

Jumat, 23 Mei 2014

Akankah Kau Kembali ?

Kisah Rara dan laki - laki berkemeja abu - abu.

Nampaknya cerita mereka tidak kandas begitu saja, akan ada waktu untuk merangkai kembali berbagai kisah indah itu. Waktu yang lebih tepat dan lebih indah. Pahit, pahitnya melebihi rasa khas dari buah maja. Sakit, sakitnya bagai diiris sembilu. Menusuk dan menyesakkan dada. Namun apalah daya, kisah manis itu harus dihentikan terlebih dahulu lantas akan dimulai kembali beberapa tahun lagi.

Tiba tiba telepon genggam milik Rara berdering. 
"Scrapbook dan isinya aku simpan", isi pesan yang baru saja menghentikan langkah kakinya menuju sebuah bangunan putih di ujung gang sempit itu.

"Ya", dua huruf sebagai balasannya.

Sempat ada gundah di hati, namun ia mengabaikannya. Seketika ia tertidur, mungkin ia terlalu lelah dengan segala aktifitas yang memaksanya untuk mengurangi jatah tidurnya di hari itu. Namun tidurnya terasa tak pulas, tak diiringi sejuta mimpi indah seperti biasanya. Hatinya seakan tercabik. Ia memutuskan untuk menelepon pengirim pesan singkat itu. Kurang lebih sepuluh kali masih tak ada jawaban. Dan untuk panggilan yang terakhir, laki - laki berkemeja abu - abu itu menjawabnya. Seperti biasa Rara melontarkan salam sejuta umat. Suara yang terdengar mulai tak biasa. Gunda semakin menggeliat di hati gadis cantik itu.

"Mulai sekarang kita nggak ada hubungan apa - apa lagi", sepotong kalimat yang terngiang di telinga pemilik lesung pipi itu.

Seketika air matanya menetes, ia tak tahu apa alasannya, beribu tanya berputar mengelilingi otaknya, dan ia tak kuasa untuk mengucap sepatahkatapun. Sekian menit berlalu diiringi air mata. Kemudian ia memberanikan diri untuk mengucap sesuatu. Bak berada di ruang sidang para dewan, pembicaraan mereka mulai serius.

"Akan ada waktu yang tepat untuk ini semua", tambah laki - laki manis itu. 

"Tapi, kamu pergi dan nggak akan menghubungiku lagi", kalimat yang sempat terucap dalam isak tangis Rara.

"Aku akan menghubungimu lagi, aku akan datang dengan rasa yang sama di waktu yang tepat dan lebih indah dari ini", ucap laki - laki itu dengan segala keyakinan dan keteguhan hatinya.

Air matapun tak terbendung lagi. Sakit, pahit, luka. Ya.. memang itu yang dirasakan oleh Rara. Seakan tak ada tempat kosong di rongga dadanya untuk sejenak terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida di dalamnya.

"Ini semua berat, terlalu sulit untuk dilalui", ucapnya sembari tetap menangis meluapkan segala emosi yang membuat nafasnya terhenti beberapa saat.

"Akupun merasa berat, tapi pahamilah. Pelajari agama kita dengan benar, maka kamu akan mengerti ini semua", jelas si kemeja abu - abu.

Semakin tak kuasa Rara menahan tetesan air matanya. Air mata yang sebenarnya hanya mewakili sedikit dari kehancurannya. Di dalam jauh lebih teriris. Hati mereka bisa dipastikan sungguh terluka. Ya.. itulah yang mereka rasakan. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyadari bahwa mereka harus memahami apa yang diajarkan oleh agama. Sebuah syariat yang sudah seharusnya mereka tegakkan, walau menyayat dan mengorbankan apa yang telah mereka bangun selama ini.

"Percayalah ini semua akan indah, akan manis di akhirnya. Tetap istiqomah dan selalu memperbaiki diri. Senantiasa berdoa. Aku akan kembali", jelas si laki - laki berkemeja abu - abu itu ditengah isak tangis sang kekasih yang kian meninggi.

Gadis berlesung pipi itu tak mampu berucap sepatahkatapun, yang ia rasakan hanyalah sesak yang kini merundung dadanya. Inilah yang terbaik. Sang pencipta tak akan memberi jalan semua ini jika tak ada hikmah dibaliknya. Akan selalu ada buah yang bisa mereka petik dalam sebuah perkara. Ia yakin akan ada hari, akan ada waktu dimana seseorang yang ia sayang akan datang dengan rasa yang sama di waktu yang lebih tepat dan lebih indah. Seperti potongan kalimat laki - laki berkemeja abu - abu itu, 'pahit di awal dan manis di akhir'. Rara akan tetap menunggu, menunggu, dan senantiasa menunggu sang pujaan hati. Menunggunya hadir dengan rasa yang tak berkurang bahkan bertambah di suatu saat nanti. Di saat semuanya sudah siap, waktu itu akan datang. Ia percaya akan hal itu.

"Kita pasti bisa. Akhirnya pasti manis, pasti manis, pasti manis. Percayalah", ucap si kemeja abu - abu itu berusaha menenangkan kekasih hatinya.

Mungkin hanya sepenggal kalimat itu yang mampu terucap dari sang laki - laki berkemeja abu - abu untuk menguatkan hati Rara yang teriris. Sepenggal kalimat yang juga menumbuhkan sugesti positif di hatinya yang sedang tercabik. Sungguh mulia keputusan si laki – laki berkemeja abu – abu itu, sungguh. Rara percaya sangat jarang ditemukan sosok seperti sosok pujaannya itu. Rela mengorbankan semuanya demi tegaknya sebuah syariat agama. Ketika seseorang mampu, maka Allah akan memudahkan jalannya.

“Cita - cita, harapan, dan tujuan hidup kita berdua akan kita perjuangkan bersama sama di jalan - Nya. Kelak kita akan bertemu dan mewujudkan semuanya”, ucap Rara dalam batinnya mencoba untuk memberi keyakinan pada hatinya yang tengah terluka.

“Percayalah menunggu itu bukan suatu proses yang menjemukan. Berbahagialah ketika kamu harus menunggu, sembari memperbaiki diri dan tetap istiqomah. Ingatlah Allah tidak akan menyia - nyiakan doa hamba - Nya. Hari itu akan datang, akan segera datang. Di saat semuanya sudah siap, akan tiba waktunya untuk kita bersama lagi merajut kasih yang diridhoi oleh sang Mahakuasa yang mampu membolak - balikkan hati manusia”, sebait motivasi yang selalu menguatkan Rara dikala hatinya tersayat luka ketika ia mengingat semua yang telah terjadi.

“Detik ini, sungguh aku rindu. Sangat rindu, sungguh. Tapi biarlah rindu ini merasuk dan akan kuceritakan pada - Nya yang akan menyampaikan rinduku padamu. Takkan pernah habis air mataku ketika kuingat segala tentangmu, tentang kita, dan tentang rasa ini. Rasa yang sungguh sulit kurasakan sebelumnya. Rasa yang tak pernah bisa aku jelaskan”, ucap Rara sembari ia memandangi sebingkai foto di sepetak kamar miliknya.

'Pergilah semaumu, tapi kembalilah saat mengingatku. Aku tetap disini', Mungkin hanya kalimat itu yang mampu Rara berikan agar sang kekasih tahu bahwa Rara tak akan pergi meninggalkannya. Rara akan bertahan menjaga segala rasa yang ia miliki, senantiasa bersabar menanti, dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kini yang menggeliat di hati dan pikirannya adalah apakah sang laki – laki berkemeja abu – abu itu akan kembali untuknya. Kembali untuk merangkai kisah – kisah indah mereka, mewujudkan cita – cita, harapan, dan tujuan mereka berdua.

“Akankah kau kembali?”, tanya Rara dalam hatinya.

Waktulah yang akan menjawabnya. Biarkan waktu bergulir dengan cepatnya mengiringi langkah kaki Rara dan senantiasa menemaninya dengan segala kegundahan di hati. 

Rabu, 21 Mei 2014

Untukmu Pemberi Senyum Terindah

Hai seseorang yang dulu tak kukenal. Dulu aku hanya memanggilmu dengan panggilan seperti mereka pada umumnya. Lantas seiring berjalannya waktu, aku beralih memanggilmu 'mas', dan kamu memanggilku 'mba'. Indah rasanya. Sungguh indah memiliki rasa yang tak biasa. Aku bahagia menyimpan rasa ini. Mungkin itu sedikit tentang kita. Sungguh masih banyak cerita manis lainnya, tapi tak mungkin aku bercerita disini. 

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan kamu lalui. Lonceng berdenting menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Lonceng itu sekaligus memberiku peringatan untuk mengingat hari lahirmu. Hari dimana kamu mulai membuka matamu untuk menatap dunia. Sebenarnya tanpa lonceng itupun aku sudah mengingatnya. Tak ada satu alasanpun bagiku untuk lupa hari lahirmu. Akupun sudah menyiapkan konsep untukmu sejak bulan februari silam. Dan semua itu aku harap berjalan sesuai rencanaku. Akupun berdoa semoga sang pencipta memberi kemudahan. 

Sejak februari aku bertekad untuk menyelesaikan sebuah kado untukmu. Kado yang tak pernah mau aku melakukannya demi seseorang. Tapi lain denganmu, aku mau dan bersedia bersusah payah dan bercucuran keringat untuk membuat sesuatu yang istimewa di hari istimewamu ini. Ah.. nampaknya terlalu panjang untuk kuceritakan perjuangan dan pengorbananku untuk sesuatu itu. Oh iya. Aku belum memberimu sebuah ucapan. Tapi tenanglah dalam doa selalu aku mendoakanmu.

Selamat ulang tahun, Mas. Barakallah. Berdoa yang terbaik di usiamu saat ini ya..



Sepertinya akan sepanjang rel kereta api jika aku mendoakanmu disini. Biarkan doaku untukmu selalu terucap di setiap sujudku menghadap sang Mahakuasa. Doaku akan diamini oleh malaikat, semut yang berjalan, bahkan benda - benda mati lainnya. Merekalah saksinya. Doaku takkan pernah terputus untukmu. Sekali lagi selamat ulang tahun mas, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Teruslah memperbaiki diri dan ingatlah "aku adalah cerminanmu". 

Senin (12/5) kado itu aku berikan. Aku tak seperti yang lain, yang memberi baju, tas atau yang lain kepada seseorang yang istimewa di hati. Aku ingin kado itu memiliki kesan pribadi untukmu. Kuharap dengan kado itu kamu bisa mengerti bagaimana perjalanan hidupmu sejak kecil hingga saat ini. Aku rasa itu akan menumbuhkan rasa syukur yang lebih dalam dirimu. 

Selasa (13/5), memang tak ada yang spesial dariku, tapi memang sengaja kubuat seperti itu. Agar kamu mengira bahwa tak ada lagi kejutan lain. 

Rabu (14/5) mungkin menjadi malam yang berkesan bagiku, walau pahit. Saat telepon genggam itu jadi saksi pembicaraan kita. Sakit , pahit. Ya.. itu memang yang kurasakan. Kamu pastilah tahu apa itu yang membuat sesak di dada. Mungkin sangat tidak perlu kukatakan disini. Nafasku seakan terhenti sejenak mendengar sebait ucapanmu.

Kamis (15/5) kita kembali dipertemukan di depan bangunan putih itu. Aku sama sekali tak memberimu satu simpul senyum. Mungkin kamu sedih, tapi ini yang kurasa. Sesak di dada seolah menahan bibir untuk merekah sesaat. Aku harap kamu mengerti. 

Jumat (16/5) masih sama seperti hari lalu. Aku masih enggan memberimu sebuah ukiran senyum. Walau raga sedang tak baik aku berusaha untuk memberimu sebuah kejutan lagi. Dan akhirnya enam potong cupcakes bertuliskan namamu berhasil kupersembahkan untukmu. Bersama kedua sahabat terbaikku aku menjejakkan kaki di rumah keduamu. Dibantu oleh mereka, mereka yang menjadi teman seperjuanganmu saat ini. Akhirnya semua rencana itu terlaksana dengan baik. Setelah sekian banyak konsep menggeliat di otak sedikit mencuri sebagian memoriku.

Sebenarnya masih ribuan cerita suka duka di Mei ini, namun sangat tidak mungkin untuk aku paparkan di blog sederhana ini. Biarkan menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupa olehku dan olehmu. Terima kasih pemberi senyum terindah :).


Rabu, 26 Maret 2014

Pemberi Senyum Terindah

Sontak ukiran senyum itu membuat jantungku berpacu dalam melodi. Ayunan tangan dan langkah kakiku terhenti melihat seberkas cahaya terpancar dari raut wajah itu. Ukiran senyum yang tak pernah bisa orang lain memaknainya. Tatapan mata yang mungkin hanya bisa ku rasakan sendiri tanpa bisa ku berbagi dengan yang lain. Mungkin akan lebih baik ketika aku memberi sebuah julukan untuknya pemberi senyum terindah.

Kala mentari menampakkan pesonanya kala itu pula aku selalu berharap untuk bisa melihat senyuman itu lagi. Kita dipertemukan tanpa ada seorang pun yang tau. Hanya sang penciptalah yang memahami. Tugas kami hanya mengikuti setiap prosedur yang telah dirancang oleh sang maha kuasa.

Di bawah terik matahari, aku melangkahkan kaki dengan riangnya ke sebuah bangunan kokoh tempat dimana aku memperoleh secercah ilmu untuk bekal masa depanku. Sesampainya di bangunan itu, aku melihat sosok pemberi senyum terindah itu dengan pesonanya seolah memfokuskan retina mataku kepadanya. Tak sepatah kata pun bisa ku ucap, aku terpaku menatapnya.

Gejolak hati pun tak bisa ku kendalikan. Ah, mungkin inilah rasanya jatuh cinta. Rasa yang sudah lama tak berkobar di relung hati ini. Aku selalu ingin menjaga ukiran senyum itu, senyum yang selalu terpancar dari sosok calon masa depanku.

Aku tak pernah mengerti makna sebuah pertemuan yang seperti ini. Aku pun tak pernah mengerti dimana ini semua akan berlabuh menemukan muaranya. Yang terpenting adalah bagaimana aku tetap bisa menjaga ini semua dalam bait - bait doaku.

Awal pertemuan kami memang biasa saja. Saling tak menyadari dan mungkin tak pernah ada yang tahu. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan ku lalui semua ini dengan tenang layaknya air yang mengalir. Dalam diam aku menyimpannya dan mungkin hanya kami berdua dan sang pencipta yang mengerti.

Senja itu adalah kenangan termanis yang pernah ada. Pemberi senyum terindah dengan segala kelebihan dan kekurangannya menemani setiap langkah kaki ini.

Dia, sang pemberi senyum terindah adalah salah satu nama yang selalu ku ucap dan turut menemani tangis dalam lantunan doa di setiap sembah sujudku.

Sebait lirik lagu untukmu sang pemberi senyum terindah,
“Tak pernah ku duga semuanya berubah, saat kau memandangku bergetar hati ini. Kau berikan harapan tentang warna – warni hariku”