Rabu, 18 Juni 2014

Aku, Kamu, dan Kita

Pertemuan kita berawal dari sebuah surat. Hitam di atas putih, terbungkus kertas hijau, dan ada sebuah logo buku di pojok kanannya. Ketika kita bersama dalam detik dan helaan nafas yang sama membuka surat itu lantas tak lama terdengar teriakan yang melengking tajam. Di dalam surat itulah kita disatukan. Surat yang lebih indah dari hanya sekedar surat cinta, surat itu bertuliskan 'selamat anda lolos seleksi calon anggota PIR/KIR SMA NEGERI 1 SOOKO'.
Surat itu adalah pintu gerbang menuju perjuangan kita meraih prestasi. Surat itu perlambang masih banyak usaha keras yang akan kita beri untuknya. Sebuah amanah yang patut untuk diperjuangkan. Kita bersama merajut cinta, memadu kasih. Kita yang berbeda namun kita menjadi satu disini. Ya menjadi satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan.
Setahun berlalu begitu cepatnya, bak terpaan angin yang menyejukkan senja itu. Suka duka, pahit manis, dan tangis tawa mengiringi setiap langkah kita. Begitu banyak rajutan kisah yang kami buat. Kini saatnya kami menginjakkan kaki ke lantai selanjutnya. Hal ini berarti amanah yang kami emban akan lebih berat lagi.
Yaa senja itu di sebuah bangunan kokoh berwarna hijau sehijau dedaunan di pohon. Degup jantung saling berpacu, semakin lama semakin kencang. Disinilah kami akan tahu mau dibawa kemana arah kami berjuang di ranah ilmiah ini. Sepucuk surat dari sesosok berkarisma itu adalah penentuan. Sampailah sepucuk surat itu ditanganku. Hanya selembar putih memang. Tapi dari sanalah awal perjuangan kami di satu langkah lebih tinggi.
Aku masih ingat sekali satu kata yang tercetak tebal dan bergaris bawah itu. Hanya satu kata memang, tapi tanggung jawabku sangat besar di situ. Tapi inilah konsekuensi atas apa yang kupilih. Satu tahun masa keperiodean kami haruslah tercipta prestasi sesuai dengan apa yang kami targetkan.
Semua target tercapai, dan kami telah mampu menghasilkan beberapa karya ilmiah yang menyabet juara tingkat nasional. Suatu kebanggaan memang, kepuasan pula bagi kami. Tapi lepas dari itu semua, sesungguhnya ada satu hal yang lebih dari kata memuaskan. Satu hal itu yang tak pernah terbayangkan oleh kami. Berawal dari sebuah perjuangan. Rasa saling memiliki, saling menyayangi itu tumbuh dengan subur di dalam hati kami masing-masing.
Akhir perjuangan ditandai dengan adanya praktek kerja lapangan, biasa kami sebut sebagai PKL. PKL merupakan program kerja terakhir bendahara. Ini merupakan kontribusi terakhirku dimana aku ingin sekali memberikan sesuatu dengan sejuta kesan indah di dalamnya. Semuanya berjalan sesuai rencana. Sesuatu yang kuinginkan punya sejuta maknapun terwujud. Ini semua tak kulakukan sendiri, tapi bersama saudara-saudaraku di almamater hijauku ini.
Kontribusiku di periode ini telah usai, tapi bukan berarti aku meninggalkannya begitu saja. Ternyata beberapa diantara kami masih dipercaya untuk menjaga almamater ini. Tujuh dari 23 orang diamanahkan untuk menjadi dewan kehormatan, aku salah satunya.

Suatu kehormatan bagiku dan 6 temanku. Bagi kami itu amanah yang luar biasa. Karena disaat kami akan sibuk dengan segala problematika di akhir masa kami berseragam putih abu-abu, disaat kami berkutat dengan sekian banyak kertas dan buku, kami masih harus memerhatikan kinerja maupun kemajuan dari almamater hijau ini.

Bahkan hingga dibangku kuliah saat inipun, disaat aku berkecimpung dengan berbagai unsur kimia, reaksi kimia, dan lainnya. Aku beserta keenam temanku masih harus memantau keperiodean dibawah kami.

Satu pesan untukmu saudaraku "Jangan jadikan ini semua beban, kita semua saudara. Kita sudah merasakan pahit manis bersama. Jangan jadikan beban amanah dipundak kita. Meskipun kita terpisah oleh jarak, namun kita tetap satu. Jaga almamater hijau yang tercinta ini"








Tidak ada komentar:

Posting Komentar