Pertemuan kita berawal dari sebuah surat. Hitam di atas putih, terbungkus kertas hijau, dan ada sebuah logo buku di pojok kanannya. Ketika kita bersama dalam detik dan helaan nafas yang sama membuka surat itu lantas tak lama terdengar teriakan yang melengking tajam. Di dalam surat itulah kita disatukan. Surat yang lebih indah dari hanya sekedar surat cinta, surat itu bertuliskan 'selamat anda lolos seleksi calon anggota PIR/KIR SMA NEGERI 1 SOOKO'.
Surat
itu adalah pintu gerbang menuju perjuangan kita meraih prestasi. Surat itu
perlambang masih banyak usaha keras yang akan kita beri untuknya. Sebuah amanah
yang patut untuk diperjuangkan. Kita bersama merajut cinta, memadu kasih. Kita
yang berbeda namun kita menjadi satu disini. Ya menjadi satu kesatuan utuh yang
tak terpisahkan.
Setahun
berlalu begitu cepatnya, bak terpaan angin yang menyejukkan senja itu. Suka
duka, pahit manis, dan tangis tawa mengiringi setiap langkah kita. Begitu
banyak rajutan kisah yang kami buat. Kini saatnya kami menginjakkan kaki ke
lantai selanjutnya. Hal ini berarti amanah yang kami emban akan lebih berat
lagi.
Yaa
senja itu di sebuah bangunan kokoh berwarna hijau sehijau dedaunan di pohon.
Degup jantung saling berpacu, semakin lama semakin kencang. Disinilah kami akan
tahu mau dibawa kemana arah kami berjuang di ranah ilmiah ini. Sepucuk surat
dari sesosok berkarisma itu adalah penentuan. Sampailah sepucuk surat itu
ditanganku. Hanya selembar putih memang. Tapi dari sanalah awal perjuangan kami
di satu langkah lebih tinggi.
Aku
masih ingat sekali satu kata yang tercetak tebal dan bergaris bawah itu. Hanya
satu kata memang, tapi tanggung jawabku sangat besar di situ. Tapi inilah
konsekuensi atas apa yang kupilih. Satu tahun masa keperiodean kami haruslah
tercipta prestasi sesuai dengan apa yang kami targetkan.
Semua
target tercapai, dan kami telah mampu menghasilkan beberapa karya ilmiah yang
menyabet juara tingkat nasional. Suatu kebanggaan memang, kepuasan pula bagi
kami. Tapi lepas dari itu semua, sesungguhnya ada satu hal yang lebih dari kata
memuaskan. Satu hal itu yang tak pernah terbayangkan oleh kami. Berawal dari
sebuah perjuangan. Rasa saling memiliki, saling menyayangi itu tumbuh dengan
subur di dalam hati kami masing-masing.
Akhir
perjuangan ditandai dengan adanya praktek kerja lapangan, biasa kami sebut
sebagai PKL. PKL merupakan program kerja terakhir bendahara. Ini merupakan
kontribusi terakhirku dimana aku ingin sekali memberikan sesuatu dengan sejuta
kesan indah di dalamnya. Semuanya berjalan sesuai rencana. Sesuatu yang
kuinginkan punya sejuta maknapun terwujud. Ini semua tak kulakukan sendiri,
tapi bersama saudara-saudaraku di almamater hijauku ini.
Kontribusiku
di periode ini telah usai, tapi bukan berarti aku meninggalkannya begitu saja.
Ternyata beberapa diantara kami masih dipercaya untuk menjaga almamater ini.
Tujuh dari 23 orang diamanahkan untuk menjadi dewan kehormatan, aku salah
satunya.
Suatu kehormatan bagiku dan 6 temanku.
Bagi kami itu amanah yang luar biasa. Karena disaat kami akan sibuk dengan
segala problematika di akhir masa kami berseragam putih abu-abu, disaat kami
berkutat dengan sekian banyak kertas dan buku, kami masih harus memerhatikan
kinerja maupun kemajuan dari almamater hijau ini.
Bahkan hingga dibangku kuliah saat
inipun, disaat aku berkecimpung dengan berbagai unsur kimia, reaksi kimia, dan
lainnya. Aku beserta keenam temanku masih harus memantau keperiodean dibawah
kami.
Satu pesan untukmu saudaraku
"Jangan jadikan ini semua beban, kita semua saudara. Kita sudah merasakan
pahit manis bersama. Jangan jadikan beban amanah dipundak kita. Meskipun kita
terpisah oleh jarak, namun kita tetap satu. Jaga almamater hijau yang tercinta
ini"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar