Rabu, 18 Juni 2014

Rinduku di Senja Kala Itu

Duduk bersila sembari menemani senja hati. merasakan warna temaram yang kian berbunar. secangkir kopi seperti biasa tak pernah terasa jemu. pahit terlalu manis seperti senyumanmu waktu itu. sekali menoleh meresapi keindahan. yang terpikir sejenak adalah sebuah kedamaian. aku melihat warna-warna langit semakin merindu. tak ubahnya seperti nyanyian jiwa kala itu. ingin kutemui cinta dan lepaskan rasa.

Senja ini kurasakan rindu yang begitu dalam, meresap jauh ke dalam. Seketika hujan mengerti akan rinduku. Kala itu bulir bulir bening menemani sepiku di sudut bangunan ini. Retina mataku tertuju pada bulir-bulir itu lantas aku memandangnya hingga jiwaku terbawa, terhanyut dalam satu demi satu rintik bulir itu.

Sinar redup di ufuk barat tak terlalu tinggi tertutup oleh awan-awan senja yang lembut, ingin menyentuhnya. Sesaat menghela nafas dalam karena tak mengerti ucapan arti kata indah. Langit semakin gelap dan malam semakin larut.

Aku ingin sedikit saja membuka lembaran lama. Lembaran yang tak ternoda, lembaran penuh senyuman. Ya.. aku selalu ingin memaknai setiap senyumanmu yang setiap saat kurindu. Lihatlah hujan diluar sana. Mereka bersama-sama menenangkan jiwaku. Mereka bergandengan tangan, menari di atas atap bangunan tempatku terlelap ini.


Tataplah luar dengan penuh ketenangan dan keihklasan, kau akan mengerti sebesar apa rinduku padamu. Mereka akan memberimu jawaban betapa merindunya aku. Bulir-bulir hujan yang selalu menenangkan hati ini dikala risau mulai hinggap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar