Duduk bersila sembari menemani senja hati. merasakan warna temaram yang
kian berbunar. secangkir kopi seperti biasa tak pernah terasa jemu. pahit
terlalu manis seperti senyumanmu waktu itu. sekali menoleh meresapi keindahan.
yang terpikir sejenak adalah sebuah kedamaian. aku melihat warna-warna langit
semakin merindu. tak ubahnya seperti nyanyian jiwa kala itu. ingin kutemui
cinta dan lepaskan rasa.
Senja ini kurasakan rindu yang begitu dalam, meresap jauh ke dalam.
Seketika hujan mengerti akan rinduku. Kala itu bulir bulir bening menemani
sepiku di sudut bangunan ini. Retina mataku tertuju pada bulir-bulir itu lantas
aku memandangnya hingga jiwaku terbawa, terhanyut dalam satu demi satu rintik
bulir itu.
Sinar redup di ufuk barat tak terlalu tinggi tertutup oleh awan-awan
senja yang lembut, ingin menyentuhnya. Sesaat menghela nafas dalam karena tak
mengerti ucapan arti kata indah. Langit semakin gelap dan malam semakin larut.
Aku ingin sedikit saja membuka lembaran lama. Lembaran yang tak ternoda,
lembaran penuh senyuman. Ya.. aku selalu ingin memaknai setiap senyumanmu yang
setiap saat kurindu. Lihatlah hujan diluar sana. Mereka bersama-sama
menenangkan jiwaku. Mereka bergandengan tangan, menari di atas atap bangunan
tempatku terlelap ini.
Tataplah luar dengan penuh ketenangan dan keihklasan, kau akan mengerti
sebesar apa rinduku padamu. Mereka akan memberimu jawaban betapa merindunya
aku. Bulir-bulir hujan yang selalu menenangkan hati ini dikala risau mulai
hinggap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar