Tujuh hari sudah Rara menjalani hari-harinya tanpa si kemeja
abu-abu. Dalam tujuh hari itu pulalah Rara tak kunjung menghentikan derai air
matanya. Selalu ada butiran-butiran air mata yang membasahi pipinya ketika
teringat kisahnya dengan si manis itu. Laki-laki berkemeja abu-abu itu
memberikan banyak sekali makna kehidupan dalam diri gadis berlesung pipi itu.
Saat ini Rara mulai lemah, mulai tak kuasa menahan segala tanya
yang bergejolak dalam hati dan menggeliat dalam otaknya. Walau tanya yang tak
akan pernah ada jawabannya. Pertanyaan yang mungkin lebih rumit dari hanya
sekedar soal ujian kimia fisika yang selama ini dianggap monster oleh mahasiswa.
Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sangatlah sederhana.
Sesederhana Rara menyayangi laki-laki manis itu. Namun, semua jawaban itu
terasa sungguh rumit bahkan seakan tak mampu terjawab. Karena semua jawaban itu
ada padanya. Yaa.. padanya yang selalu membuat Rara bahagia.
Rara menarik selimut dan bersiap menjemput mimpinya yang mungkin
indah mungkin juga pahit. Tiba-tiba, telepon genggam milik Rara bergetar
menunjukkan ada sebuah pemberitahuan. Nampaknya getar telepon genggam miliknya
langsung memfokuskan kedua tangannya untuk meraih sumber getaran itu.
"Sabar dan istighfar
itu saja pesanku. Jangan banyak mengeluh. Jika allah menakdirkan kita untuk
bersama ya mengapa kita harus menghindar. Sabarlah, sesungguhnya Allah lebih
mengetahui", sebuah pesan yang ia baca di sudut petak itu.
Tak habis-habisnya air mata Rara mengalir setelah tujuh hari
berlalu. Air mata itu kembali membasahi rona pipinya. Air mata perlambang
kerinduan yang mendalam akan sosok laki-laki berkemeja abu-abu itu. Sosok yang
berarti dalam hidupnya. Sosok yang selalu mampu merekahkan senyum Rara.
"Saat aku rindu, aku lemah. Aku hanya mampu bersimpuh,
menengadahkan kedua tanganku, mengagungkan sang Mahakuasa dan menyebut namanya
dalam tangisku", ucapnya ditengah suara tangis yang memenuhi sudut-sudut
kamar Rara.
"Jangan tinggalkan aku sendiri", hanya empat kata yang
mampu Rara tulis sebagai balasannya.
Bahkan hanya sekedar untuk menggerakkan jari-jarinya pun Rara
tak mampu. Tak ada yang mampu ia katakan, sesungguhnya hanya dia dan Allah yang
tahu apa yang ada dalam isi hati Rara.
"Ra, are you okay?",
Suara lembut seorang gadis keturunan Jawa-Sunda itu.
Keluh, bibir rara keluh. Tak mampu mengucap satu katapun. Ia
hanya mampu menganggukkan kepalanya. Isyarat bahwa ia baik-baik saja. Tapi
pahamilah semua itu palsu. Mana mungkin isak tangis begitu kencangnya dikatakan
baik-baik saja. Itu hanya sandiwara belaka.
Langkah kaki itu semakin mendekat, semakin membuatnya tak
berdaya. Ingin sekali rasanya memeluk sahabatnya itu lalu bercerita. Tapi
semuanya tak mungkin, sungguh tak mungkin. Rara tak punya ribuan energi untuk
mengatakannya. Rara tak mampu. Hanya pelukan kecil yang mampu sahabat rara berikan
untuknya, karena ia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi dengan rara.
Beberapa menit kemudian, telepon genggam miliknya bergetar.
"Aku nggak ninggalin kamu. Aku ada", satu pesan yang masih jelas terbaca walau mata Rara
dipenuhi oleh butiran-butiran air mata.
Laki-laki berkemeja abu-abu itu tak akan pernah
mengerti bagaimana isi hati Rara saat ini. Sejuta tanya yang selalu berusaha
menyelinap mengganggu tidurnya. Sejuta tanya yang tak akan pernah terjawab.
Sejuta tanya yang memenuhi relung hatinya ketika ia mengingatnya.
"Akankah kamu kembali? Akankah semua indah
pada waktunya? Ataukah ini semua hanya salah satu dari ribuan alasanmu untuk
meninggalkanku?", salah sekian tanya yang mungkin mampu terucap.
Entah sisanya ada dimana. Mungkin tersimpan di
suatu ruang tertutup yang tak seorangpun bisa memasukinya. Tak seorangpun bisa
mengerti akan hal itu. Merasuk terlalu dalam, sungguh sulit untuk
mengeluarkannya. Terkadang emosi memuncak membuatnya menangis untuk
keseliankalinya. Isak tangis yang menyesakkan dada, membuatnya berusaha begitu
keras hanya untuk menarik sehela nafas.
Percayalah selalu ada kemudahan dalam ikhtiar
ini. Selalu ada jalan dan penerang untuk kerisauan ini. Semuanya akan indah
pada waktunya. Percayalah. Sungguh rasa ini akan tersimpan rapi dan akan tetap sama sampai saat itu tiba. Sungguh...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar