Jumat, 23 Mei 2014

Akankah Kau Kembali ?

Kisah Rara dan laki - laki berkemeja abu - abu.

Nampaknya cerita mereka tidak kandas begitu saja, akan ada waktu untuk merangkai kembali berbagai kisah indah itu. Waktu yang lebih tepat dan lebih indah. Pahit, pahitnya melebihi rasa khas dari buah maja. Sakit, sakitnya bagai diiris sembilu. Menusuk dan menyesakkan dada. Namun apalah daya, kisah manis itu harus dihentikan terlebih dahulu lantas akan dimulai kembali beberapa tahun lagi.

Tiba tiba telepon genggam milik Rara berdering. 
"Scrapbook dan isinya aku simpan", isi pesan yang baru saja menghentikan langkah kakinya menuju sebuah bangunan putih di ujung gang sempit itu.

"Ya", dua huruf sebagai balasannya.

Sempat ada gundah di hati, namun ia mengabaikannya. Seketika ia tertidur, mungkin ia terlalu lelah dengan segala aktifitas yang memaksanya untuk mengurangi jatah tidurnya di hari itu. Namun tidurnya terasa tak pulas, tak diiringi sejuta mimpi indah seperti biasanya. Hatinya seakan tercabik. Ia memutuskan untuk menelepon pengirim pesan singkat itu. Kurang lebih sepuluh kali masih tak ada jawaban. Dan untuk panggilan yang terakhir, laki - laki berkemeja abu - abu itu menjawabnya. Seperti biasa Rara melontarkan salam sejuta umat. Suara yang terdengar mulai tak biasa. Gunda semakin menggeliat di hati gadis cantik itu.

"Mulai sekarang kita nggak ada hubungan apa - apa lagi", sepotong kalimat yang terngiang di telinga pemilik lesung pipi itu.

Seketika air matanya menetes, ia tak tahu apa alasannya, beribu tanya berputar mengelilingi otaknya, dan ia tak kuasa untuk mengucap sepatahkatapun. Sekian menit berlalu diiringi air mata. Kemudian ia memberanikan diri untuk mengucap sesuatu. Bak berada di ruang sidang para dewan, pembicaraan mereka mulai serius.

"Akan ada waktu yang tepat untuk ini semua", tambah laki - laki manis itu. 

"Tapi, kamu pergi dan nggak akan menghubungiku lagi", kalimat yang sempat terucap dalam isak tangis Rara.

"Aku akan menghubungimu lagi, aku akan datang dengan rasa yang sama di waktu yang tepat dan lebih indah dari ini", ucap laki - laki itu dengan segala keyakinan dan keteguhan hatinya.

Air matapun tak terbendung lagi. Sakit, pahit, luka. Ya.. memang itu yang dirasakan oleh Rara. Seakan tak ada tempat kosong di rongga dadanya untuk sejenak terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida di dalamnya.

"Ini semua berat, terlalu sulit untuk dilalui", ucapnya sembari tetap menangis meluapkan segala emosi yang membuat nafasnya terhenti beberapa saat.

"Akupun merasa berat, tapi pahamilah. Pelajari agama kita dengan benar, maka kamu akan mengerti ini semua", jelas si kemeja abu - abu.

Semakin tak kuasa Rara menahan tetesan air matanya. Air mata yang sebenarnya hanya mewakili sedikit dari kehancurannya. Di dalam jauh lebih teriris. Hati mereka bisa dipastikan sungguh terluka. Ya.. itulah yang mereka rasakan. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyadari bahwa mereka harus memahami apa yang diajarkan oleh agama. Sebuah syariat yang sudah seharusnya mereka tegakkan, walau menyayat dan mengorbankan apa yang telah mereka bangun selama ini.

"Percayalah ini semua akan indah, akan manis di akhirnya. Tetap istiqomah dan selalu memperbaiki diri. Senantiasa berdoa. Aku akan kembali", jelas si laki - laki berkemeja abu - abu itu ditengah isak tangis sang kekasih yang kian meninggi.

Gadis berlesung pipi itu tak mampu berucap sepatahkatapun, yang ia rasakan hanyalah sesak yang kini merundung dadanya. Inilah yang terbaik. Sang pencipta tak akan memberi jalan semua ini jika tak ada hikmah dibaliknya. Akan selalu ada buah yang bisa mereka petik dalam sebuah perkara. Ia yakin akan ada hari, akan ada waktu dimana seseorang yang ia sayang akan datang dengan rasa yang sama di waktu yang lebih tepat dan lebih indah. Seperti potongan kalimat laki - laki berkemeja abu - abu itu, 'pahit di awal dan manis di akhir'. Rara akan tetap menunggu, menunggu, dan senantiasa menunggu sang pujaan hati. Menunggunya hadir dengan rasa yang tak berkurang bahkan bertambah di suatu saat nanti. Di saat semuanya sudah siap, waktu itu akan datang. Ia percaya akan hal itu.

"Kita pasti bisa. Akhirnya pasti manis, pasti manis, pasti manis. Percayalah", ucap si kemeja abu - abu itu berusaha menenangkan kekasih hatinya.

Mungkin hanya sepenggal kalimat itu yang mampu terucap dari sang laki - laki berkemeja abu - abu untuk menguatkan hati Rara yang teriris. Sepenggal kalimat yang juga menumbuhkan sugesti positif di hatinya yang sedang tercabik. Sungguh mulia keputusan si laki – laki berkemeja abu – abu itu, sungguh. Rara percaya sangat jarang ditemukan sosok seperti sosok pujaannya itu. Rela mengorbankan semuanya demi tegaknya sebuah syariat agama. Ketika seseorang mampu, maka Allah akan memudahkan jalannya.

“Cita - cita, harapan, dan tujuan hidup kita berdua akan kita perjuangkan bersama sama di jalan - Nya. Kelak kita akan bertemu dan mewujudkan semuanya”, ucap Rara dalam batinnya mencoba untuk memberi keyakinan pada hatinya yang tengah terluka.

“Percayalah menunggu itu bukan suatu proses yang menjemukan. Berbahagialah ketika kamu harus menunggu, sembari memperbaiki diri dan tetap istiqomah. Ingatlah Allah tidak akan menyia - nyiakan doa hamba - Nya. Hari itu akan datang, akan segera datang. Di saat semuanya sudah siap, akan tiba waktunya untuk kita bersama lagi merajut kasih yang diridhoi oleh sang Mahakuasa yang mampu membolak - balikkan hati manusia”, sebait motivasi yang selalu menguatkan Rara dikala hatinya tersayat luka ketika ia mengingat semua yang telah terjadi.

“Detik ini, sungguh aku rindu. Sangat rindu, sungguh. Tapi biarlah rindu ini merasuk dan akan kuceritakan pada - Nya yang akan menyampaikan rinduku padamu. Takkan pernah habis air mataku ketika kuingat segala tentangmu, tentang kita, dan tentang rasa ini. Rasa yang sungguh sulit kurasakan sebelumnya. Rasa yang tak pernah bisa aku jelaskan”, ucap Rara sembari ia memandangi sebingkai foto di sepetak kamar miliknya.

'Pergilah semaumu, tapi kembalilah saat mengingatku. Aku tetap disini', Mungkin hanya kalimat itu yang mampu Rara berikan agar sang kekasih tahu bahwa Rara tak akan pergi meninggalkannya. Rara akan bertahan menjaga segala rasa yang ia miliki, senantiasa bersabar menanti, dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kini yang menggeliat di hati dan pikirannya adalah apakah sang laki – laki berkemeja abu – abu itu akan kembali untuknya. Kembali untuk merangkai kisah – kisah indah mereka, mewujudkan cita – cita, harapan, dan tujuan mereka berdua.

“Akankah kau kembali?”, tanya Rara dalam hatinya.

Waktulah yang akan menjawabnya. Biarkan waktu bergulir dengan cepatnya mengiringi langkah kaki Rara dan senantiasa menemaninya dengan segala kegundahan di hati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar