Kisah Rara dan laki - laki berkemeja abu - abu.
Nampaknya cerita mereka tidak kandas begitu saja, akan ada waktu untuk merangkai kembali berbagai kisah indah itu. Waktu yang lebih tepat dan lebih indah. Pahit, pahitnya melebihi rasa khas dari buah maja. Sakit, sakitnya bagai diiris sembilu. Menusuk dan menyesakkan dada. Namun apalah daya, kisah manis itu harus dihentikan terlebih dahulu lantas akan dimulai kembali beberapa tahun lagi.
Tiba tiba telepon genggam milik Rara berdering.
"Scrapbook dan isinya aku simpan", isi pesan yang baru saja menghentikan langkah kakinya menuju sebuah bangunan putih di ujung gang sempit itu.
"Scrapbook dan isinya aku simpan", isi pesan yang baru saja menghentikan langkah kakinya menuju sebuah bangunan putih di ujung gang sempit itu.
"Ya", dua huruf sebagai balasannya.
Sempat ada gundah di hati, namun ia
mengabaikannya. Seketika ia tertidur, mungkin ia terlalu lelah dengan segala
aktifitas yang memaksanya untuk mengurangi jatah tidurnya di hari itu. Namun
tidurnya terasa tak pulas, tak diiringi sejuta mimpi indah seperti biasanya.
Hatinya seakan tercabik. Ia memutuskan untuk menelepon pengirim pesan singkat
itu. Kurang lebih sepuluh kali masih tak ada jawaban. Dan untuk panggilan yang
terakhir, laki - laki berkemeja abu - abu itu menjawabnya. Seperti biasa Rara
melontarkan salam sejuta umat. Suara yang terdengar mulai tak biasa. Gunda
semakin menggeliat di hati gadis cantik itu.
"Mulai sekarang kita nggak ada hubungan apa - apa lagi",
sepotong kalimat yang terngiang di telinga pemilik lesung pipi itu.
Seketika air matanya menetes, ia tak tahu apa
alasannya, beribu tanya berputar mengelilingi otaknya, dan ia tak kuasa untuk
mengucap sepatahkatapun. Sekian menit berlalu diiringi air mata. Kemudian ia memberanikan
diri untuk mengucap sesuatu. Bak berada di ruang sidang para dewan, pembicaraan
mereka mulai serius.
"Akan ada waktu yang tepat untuk ini
semua", tambah laki - laki manis itu.
"Tapi, kamu pergi dan nggak akan menghubungiku lagi",
kalimat yang sempat terucap dalam isak tangis Rara.
"Aku akan menghubungimu lagi, aku akan
datang dengan rasa yang sama di waktu yang tepat dan lebih indah dari
ini", ucap laki - laki itu dengan segala keyakinan dan keteguhan hatinya.
Air matapun tak terbendung lagi. Sakit, pahit,
luka. Ya.. memang itu yang dirasakan oleh Rara. Seakan tak ada tempat kosong di
rongga dadanya untuk sejenak terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida di
dalamnya.
"Ini semua berat, terlalu sulit untuk
dilalui", ucapnya sembari tetap menangis meluapkan segala emosi yang
membuat nafasnya terhenti beberapa saat.
"Akupun merasa berat, tapi pahamilah.
Pelajari agama kita dengan benar, maka kamu akan mengerti ini semua",
jelas si kemeja abu - abu.
Semakin tak kuasa Rara menahan tetesan air
matanya. Air mata yang sebenarnya hanya mewakili sedikit dari kehancurannya. Di
dalam jauh lebih teriris. Hati mereka bisa dipastikan sungguh terluka. Ya..
itulah yang mereka rasakan. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai
menyadari bahwa mereka harus memahami apa yang diajarkan oleh agama. Sebuah syariat yang sudah seharusnya mereka tegakkan,
walau menyayat dan mengorbankan apa yang telah mereka bangun selama ini.
"Percayalah ini semua akan indah, akan
manis di akhirnya. Tetap istiqomah dan selalu memperbaiki diri. Senantiasa
berdoa. Aku akan kembali", jelas si laki - laki berkemeja abu - abu itu
ditengah isak tangis sang kekasih yang kian meninggi.
Gadis berlesung pipi itu tak mampu berucap
sepatahkatapun, yang ia rasakan hanyalah sesak yang kini merundung dadanya.
Inilah yang terbaik. Sang pencipta tak akan memberi jalan semua ini jika tak
ada hikmah dibaliknya. Akan selalu ada buah yang bisa mereka petik dalam sebuah
perkara. Ia yakin akan ada hari, akan ada waktu dimana seseorang yang ia sayang
akan datang dengan rasa yang sama di waktu yang lebih tepat dan lebih indah.
Seperti potongan kalimat laki - laki berkemeja abu - abu itu, 'pahit di awal
dan manis di akhir'. Rara akan tetap menunggu, menunggu, dan senantiasa
menunggu sang pujaan hati. Menunggunya hadir dengan rasa yang tak berkurang
bahkan bertambah di suatu saat nanti. Di saat semuanya sudah siap, waktu itu
akan datang. Ia percaya akan hal itu.
"Kita pasti bisa. Akhirnya pasti manis,
pasti manis, pasti manis. Percayalah", ucap si kemeja abu - abu itu
berusaha menenangkan kekasih hatinya.
Mungkin hanya sepenggal kalimat itu yang mampu
terucap dari sang laki - laki berkemeja abu - abu untuk menguatkan hati Rara
yang teriris. Sepenggal kalimat yang juga menumbuhkan sugesti positif di
hatinya yang sedang tercabik. Sungguh mulia keputusan si laki – laki berkemeja
abu – abu itu, sungguh. Rara percaya sangat jarang ditemukan sosok seperti
sosok pujaannya itu. Rela mengorbankan semuanya demi tegaknya sebuah syariat agama. Ketika seseorang mampu, maka Allah
akan memudahkan jalannya.
“Cita - cita, harapan, dan tujuan hidup kita
berdua akan kita perjuangkan bersama sama di jalan - Nya. Kelak kita akan
bertemu dan mewujudkan semuanya”, ucap Rara dalam batinnya mencoba untuk
memberi keyakinan pada hatinya yang tengah terluka.
“Percayalah menunggu itu bukan suatu proses
yang menjemukan. Berbahagialah ketika kamu harus menunggu, sembari memperbaiki
diri dan tetap istiqomah. Ingatlah Allah tidak akan menyia - nyiakan doa hamba
- Nya. Hari itu akan datang, akan segera datang. Di saat semuanya sudah siap,
akan tiba waktunya untuk kita bersama lagi merajut kasih yang diridhoi oleh sang Mahakuasa yang mampu
membolak - balikkan hati manusia”, sebait motivasi yang selalu menguatkan Rara
dikala hatinya tersayat luka ketika ia mengingat semua yang telah terjadi.
“Detik ini, sungguh aku rindu. Sangat rindu,
sungguh. Tapi biarlah rindu ini merasuk dan akan kuceritakan pada - Nya yang
akan menyampaikan rinduku padamu. Takkan pernah habis air mataku ketika kuingat
segala tentangmu, tentang kita, dan tentang rasa ini. Rasa yang sungguh sulit
kurasakan sebelumnya. Rasa yang tak pernah bisa aku jelaskan”, ucap Rara
sembari ia memandangi sebingkai foto di sepetak kamar miliknya.
'Pergilah semaumu, tapi kembalilah saat
mengingatku. Aku tetap disini', Mungkin hanya kalimat itu yang mampu Rara berikan
agar sang kekasih tahu bahwa Rara tak akan pergi meninggalkannya. Rara akan
bertahan menjaga segala rasa yang ia miliki, senantiasa bersabar menanti, dan
selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kini yang menggeliat di hati dan pikirannya
adalah apakah sang laki – laki berkemeja abu – abu itu akan kembali untuknya. Kembali
untuk merangkai kisah – kisah indah mereka, mewujudkan cita – cita, harapan,
dan tujuan mereka berdua.
“Akankah kau kembali?”, tanya Rara dalam
hatinya.
Waktulah yang akan menjawabnya. Biarkan waktu
bergulir dengan cepatnya mengiringi langkah kaki Rara dan senantiasa
menemaninya dengan segala kegundahan di hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar