Rabu, 21 Mei 2014

Untukmu Pemberi Senyum Terindah

Hai seseorang yang dulu tak kukenal. Dulu aku hanya memanggilmu dengan panggilan seperti mereka pada umumnya. Lantas seiring berjalannya waktu, aku beralih memanggilmu 'mas', dan kamu memanggilku 'mba'. Indah rasanya. Sungguh indah memiliki rasa yang tak biasa. Aku bahagia menyimpan rasa ini. Mungkin itu sedikit tentang kita. Sungguh masih banyak cerita manis lainnya, tapi tak mungkin aku bercerita disini. 

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan kamu lalui. Lonceng berdenting menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Lonceng itu sekaligus memberiku peringatan untuk mengingat hari lahirmu. Hari dimana kamu mulai membuka matamu untuk menatap dunia. Sebenarnya tanpa lonceng itupun aku sudah mengingatnya. Tak ada satu alasanpun bagiku untuk lupa hari lahirmu. Akupun sudah menyiapkan konsep untukmu sejak bulan februari silam. Dan semua itu aku harap berjalan sesuai rencanaku. Akupun berdoa semoga sang pencipta memberi kemudahan. 

Sejak februari aku bertekad untuk menyelesaikan sebuah kado untukmu. Kado yang tak pernah mau aku melakukannya demi seseorang. Tapi lain denganmu, aku mau dan bersedia bersusah payah dan bercucuran keringat untuk membuat sesuatu yang istimewa di hari istimewamu ini. Ah.. nampaknya terlalu panjang untuk kuceritakan perjuangan dan pengorbananku untuk sesuatu itu. Oh iya. Aku belum memberimu sebuah ucapan. Tapi tenanglah dalam doa selalu aku mendoakanmu.

Selamat ulang tahun, Mas. Barakallah. Berdoa yang terbaik di usiamu saat ini ya..



Sepertinya akan sepanjang rel kereta api jika aku mendoakanmu disini. Biarkan doaku untukmu selalu terucap di setiap sujudku menghadap sang Mahakuasa. Doaku akan diamini oleh malaikat, semut yang berjalan, bahkan benda - benda mati lainnya. Merekalah saksinya. Doaku takkan pernah terputus untukmu. Sekali lagi selamat ulang tahun mas, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Teruslah memperbaiki diri dan ingatlah "aku adalah cerminanmu". 

Senin (12/5) kado itu aku berikan. Aku tak seperti yang lain, yang memberi baju, tas atau yang lain kepada seseorang yang istimewa di hati. Aku ingin kado itu memiliki kesan pribadi untukmu. Kuharap dengan kado itu kamu bisa mengerti bagaimana perjalanan hidupmu sejak kecil hingga saat ini. Aku rasa itu akan menumbuhkan rasa syukur yang lebih dalam dirimu. 

Selasa (13/5), memang tak ada yang spesial dariku, tapi memang sengaja kubuat seperti itu. Agar kamu mengira bahwa tak ada lagi kejutan lain. 

Rabu (14/5) mungkin menjadi malam yang berkesan bagiku, walau pahit. Saat telepon genggam itu jadi saksi pembicaraan kita. Sakit , pahit. Ya.. itu memang yang kurasakan. Kamu pastilah tahu apa itu yang membuat sesak di dada. Mungkin sangat tidak perlu kukatakan disini. Nafasku seakan terhenti sejenak mendengar sebait ucapanmu.

Kamis (15/5) kita kembali dipertemukan di depan bangunan putih itu. Aku sama sekali tak memberimu satu simpul senyum. Mungkin kamu sedih, tapi ini yang kurasa. Sesak di dada seolah menahan bibir untuk merekah sesaat. Aku harap kamu mengerti. 

Jumat (16/5) masih sama seperti hari lalu. Aku masih enggan memberimu sebuah ukiran senyum. Walau raga sedang tak baik aku berusaha untuk memberimu sebuah kejutan lagi. Dan akhirnya enam potong cupcakes bertuliskan namamu berhasil kupersembahkan untukmu. Bersama kedua sahabat terbaikku aku menjejakkan kaki di rumah keduamu. Dibantu oleh mereka, mereka yang menjadi teman seperjuanganmu saat ini. Akhirnya semua rencana itu terlaksana dengan baik. Setelah sekian banyak konsep menggeliat di otak sedikit mencuri sebagian memoriku.

Sebenarnya masih ribuan cerita suka duka di Mei ini, namun sangat tidak mungkin untuk aku paparkan di blog sederhana ini. Biarkan menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupa olehku dan olehmu. Terima kasih pemberi senyum terindah :).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar