Hai seseorang yang dulu tak kukenal. Dulu aku hanya memanggilmu dengan
panggilan seperti mereka pada umumnya. Lantas seiring berjalannya waktu, aku
beralih memanggilmu 'mas', dan kamu memanggilku 'mba'. Indah rasanya. Sungguh
indah memiliki rasa yang tak biasa. Aku bahagia menyimpan rasa ini. Mungkin itu
sedikit tentang kita. Sungguh masih banyak cerita manis lainnya, tapi tak
mungkin aku bercerita disini.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan kamu lalui. Lonceng berdenting menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Lonceng itu sekaligus memberiku peringatan untuk mengingat hari lahirmu. Hari dimana kamu mulai membuka matamu untuk menatap dunia. Sebenarnya tanpa lonceng itupun aku sudah mengingatnya. Tak ada satu alasanpun bagiku untuk lupa hari lahirmu. Akupun sudah menyiapkan konsep untukmu sejak bulan februari silam. Dan semua itu aku harap berjalan sesuai rencanaku. Akupun berdoa semoga sang pencipta memberi kemudahan.
Sejak
februari aku bertekad untuk menyelesaikan sebuah kado untukmu. Kado yang tak
pernah mau aku melakukannya demi seseorang. Tapi lain denganmu, aku mau dan
bersedia bersusah payah dan bercucuran keringat untuk membuat sesuatu yang
istimewa di hari istimewamu ini. Ah.. nampaknya terlalu panjang untuk kuceritakan
perjuangan dan pengorbananku untuk sesuatu itu. Oh iya. Aku belum memberimu sebuah
ucapan. Tapi tenanglah dalam doa selalu aku mendoakanmu.
Selamat ulang
tahun, Mas. Barakallah. Berdoa yang terbaik di usiamu saat ini ya..
Sepertinya akan sepanjang rel kereta api jika aku
mendoakanmu disini. Biarkan doaku untukmu selalu terucap di setiap sujudku
menghadap sang Mahakuasa. Doaku akan diamini oleh malaikat, semut yang berjalan, bahkan
benda - benda mati lainnya. Merekalah saksinya. Doaku takkan pernah terputus
untukmu. Sekali lagi selamat ulang tahun mas, tetaplah menjadi dirimu sendiri.
Teruslah memperbaiki diri dan ingatlah "aku adalah cerminanmu".
Senin (12/5) kado itu aku berikan. Aku tak seperti yang lain, yang memberi
baju, tas atau yang lain kepada seseorang yang istimewa di hati. Aku ingin kado
itu memiliki kesan pribadi untukmu. Kuharap dengan kado itu kamu bisa mengerti
bagaimana perjalanan hidupmu sejak kecil hingga saat ini. Aku rasa itu akan
menumbuhkan rasa syukur yang lebih dalam dirimu.
Selasa (13/5), memang
tak ada yang spesial dariku, tapi memang sengaja kubuat seperti itu. Agar kamu
mengira bahwa tak ada lagi kejutan lain.
Rabu (14/5) mungkin menjadi
malam yang berkesan bagiku, walau pahit. Saat telepon genggam itu jadi saksi
pembicaraan kita. Sakit , pahit. Ya.. itu memang yang kurasakan. Kamu pastilah
tahu apa itu yang membuat sesak di dada. Mungkin sangat tidak perlu kukatakan
disini. Nafasku seakan terhenti sejenak mendengar sebait ucapanmu.
Kamis (15/5) kita kembali dipertemukan di depan bangunan putih itu. Aku
sama sekali tak memberimu satu simpul senyum. Mungkin kamu sedih, tapi ini yang
kurasa. Sesak di dada seolah menahan bibir untuk merekah sesaat. Aku harap kamu
mengerti.
Jumat (16/5) masih sama seperti hari lalu. Aku masih enggan memberimu sebuah
ukiran senyum. Walau raga sedang tak baik aku berusaha untuk memberimu sebuah
kejutan lagi. Dan akhirnya enam potong cupcakes bertuliskan namamu berhasil
kupersembahkan untukmu. Bersama kedua sahabat terbaikku aku menjejakkan kaki
di rumah keduamu. Dibantu oleh mereka, mereka yang menjadi teman seperjuanganmu saat ini.
Akhirnya semua rencana itu terlaksana dengan baik. Setelah sekian banyak konsep menggeliat di otak sedikit mencuri sebagian memoriku.
Sebenarnya masih ribuan cerita suka duka di Mei ini, namun sangat tidak mungkin untuk aku paparkan di blog sederhana ini. Biarkan menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupa olehku dan olehmu. Terima kasih pemberi senyum terindah :).





Tidak ada komentar:
Posting Komentar