Sontak ukiran senyum itu membuat
jantungku berpacu dalam melodi. Ayunan tangan dan langkah kakiku terhenti
melihat seberkas cahaya terpancar dari raut wajah itu. Ukiran senyum yang tak
pernah bisa orang lain memaknainya. Tatapan mata yang mungkin hanya bisa ku
rasakan sendiri tanpa bisa ku berbagi dengan yang lain. Mungkin akan lebih baik
ketika aku memberi sebuah julukan untuknya pemberi senyum terindah.
Kala mentari menampakkan pesonanya kala itu pula aku selalu berharap untuk
bisa melihat senyuman itu lagi. Kita dipertemukan tanpa ada seorang pun yang
tau. Hanya sang penciptalah yang memahami. Tugas kami hanya mengikuti setiap
prosedur yang telah dirancang oleh sang maha kuasa.
Di bawah terik matahari, aku
melangkahkan kaki dengan riangnya ke sebuah bangunan kokoh tempat dimana aku
memperoleh secercah ilmu untuk bekal masa depanku. Sesampainya di bangunan itu,
aku melihat sosok pemberi senyum terindah itu dengan pesonanya seolah
memfokuskan retina mataku kepadanya. Tak sepatah kata pun bisa ku ucap, aku
terpaku menatapnya.
Gejolak hati pun tak bisa ku kendalikan. Ah, mungkin inilah rasanya jatuh
cinta. Rasa yang sudah lama tak berkobar di relung hati ini. Aku selalu ingin
menjaga ukiran senyum itu, senyum yang selalu terpancar dari sosok calon masa
depanku.
Aku tak pernah mengerti makna sebuah pertemuan yang seperti ini. Aku pun
tak pernah mengerti dimana ini semua akan berlabuh menemukan muaranya. Yang
terpenting adalah bagaimana aku tetap bisa menjaga ini semua dalam bait - bait
doaku.
Awal pertemuan kami memang biasa saja. Saling tak menyadari dan mungkin tak
pernah ada yang tahu. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan ku
lalui semua ini dengan tenang layaknya air yang mengalir. Dalam diam aku
menyimpannya dan mungkin hanya kami berdua dan sang pencipta yang mengerti.
Senja itu adalah kenangan termanis yang
pernah ada. Pemberi senyum terindah dengan segala kelebihan dan kekurangannya
menemani setiap langkah kaki ini.
Dia, sang pemberi senyum terindah adalah
salah satu nama yang selalu ku ucap dan turut menemani tangis dalam lantunan
doa di setiap sembah sujudku.
Sebait lirik lagu untukmu sang pemberi
senyum terindah,
“Tak pernah ku duga semuanya berubah,
saat kau memandangku bergetar hati ini. Kau berikan harapan tentang warna –
warni hariku”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar