Waktu hanya bergulir tanpa pernah
menjawab semua tanya Rara. Sampai detik inipun, semua masih sama. Masih
mengundang tanya dan air mata. Mungkin Rara sudah tak mengerti apa yang
seharusnya ia lakukan. Tanya itu hanya berputar-putar tanpa ada jawabnya.
Rara masih menyimpan rasa yang
sama dan tak akan berubah. Tapi Rara takut, Rara ragu akan dia. Ya.. dia yang
selama ini Rara sebut dalam sujudnya. Dia yang memiliki sekian jawaban dan
semua tanya hati Rara. Dia yang membuat Rara selalu tersenyum walau kadang air
mata yang mewakili senyumannya.
“Yakinkan aku. Kuatkan aku”,
mungkin hanya itu yang Rara minta.
Namun si laki-laki berkemeja
abu-abu itu tak pernah menyadari. Mungkin saja. Rara sama sekali tak pernah
mengerti isi hati si manis itu.
“Apakah rasaku dan rasanya masih
sama ? Ataukah sudah tak ada lagi rasa itu? Atau malah sudah tergantikan?”,
ketakutan Rara semakin membabi buta hari-harinya.
Rara butuh jawaban atas semua
tanyanya. Yaa.. jawaban yang mampu menenangkan kegundahan hati yang selama ini
memicu air matanya untuk mengalir lagi dan lagi.
Hari ini, ya.. hari ini. Tubuh
Rara melemah. Ia terbaring lemah di atas kain hijau sehijau rumput di taman,
bergambarkan boneka kesukaan Rara. Ia hanya terbaring, terdiam, merintih, dan
menangis. Mungkin kesakitannya tak mampu mengalahkan rasa sakit karena luka di
hatinya. Tapi sakitnya cukup menambah sekian luka yang telah menganga. Dengan
sangat terpaksa Rara harus menelan beberapa butir obat yang notabennya pahit
walau tak sepahit liku kehidupannya.
Rara mencoba untuk duduk di sudut
petak itu sembari memandangi kaca jendela yang membawanya melayang, memandangi
rintik hujan di luar sana. Rintik hujan itu membawa jiwanya pergi entah kemana.
Membawanya mengingat, mengenang, bahkan mungkin menangis untuk kesekiankalinya.
Butiran – butiran bening itu
membasahi sedikit lengannya yang sempat ia tengadahkan ke luar untuk sedikit saja
merasakan sejuknya butiran bening kesukaannya itu.
Rara memang menyukai hujan. Ia
akan merasa lebih tenang ketika butiran bening penuh ketenangan itu membasahi
sedikit saja tubuhnya yang mulai lemah. Walau ia tahu butiran bening itu mampu
membawa khayal dan jiwanya pergi. Pergi sejenak tuk mengenang sosok itu. Ya..
sosok yang ia sayang yang entah dimana kini.
“Apa kabar hatimu sayang? Masih
adakah rasa itu untukku ?”, desah lembut gadis itu.
Desah suara itu takkan terdengar
oleh siapapun. Suara itu hanyut, tenggelam oleh suara gemericik air dari langit
biru di atas sana. Tenanglah, begitu banyak saksi bisu yang menyaksikan dan
mendengarkan. Merekalah saksi kerinduan Rara akan sosok itu. Rindu yang selalu
menghampirinya tak kenal waktu. Mereka akan tetap menjadi saksi bisu yang mampu
menyimpan segala rahasia ini entah sampai kapan akan menjadi sebuah rahasia.
“Aku rindu, aku benar-benar
rindu”, ucapnya di tengah rintik hujan yang mulai mereda.
Butiran bening lainnya mulai
menetes dari binar matanya. Bukan butiran air mata perlambangan kelemahannya.
Justru air mata perlambang kekuatan dan ketegarannya menyimpan segala rasa yang
berkutat di hatinya. Air mata perlambang bahwa ia tak mampu lagi meredam
kerinduan.
Ketika ia tak mampu lagi meredam
semuanya, yang tersisa adalah kejujuran dari bola matanya. Ya.. kini hanya
matalah yang mampu berkata. Sepelik apapun itu semua, sekuat dan setegar apapun
Rara menyimpannya. Mata tak akan bisa dibohongi. Ia akan selalu berkata jujur.
“Ya Allah, jaga dia, jaga
hatinya, bahagiakan dia. Aku menyayanginya”, sebaris doa yang ia pintakan
ditengah rintik hujan yang membasahi lengan kanannya.
Rara tak pernah sekalipun
melupakan atau bahkan menghapus si manis itu dari sujud maupun barisan doanya
yang setiap saat ia mohonkan kepada sang pembolak-balik hati manusia. Rara
yakin dan sangat yakin bahwa Dia tak akan menyia-nyiakan setiap doa yang ia
lantunkan dengan tulus, walau ia tak pernah tahu apa yang ada pada sosok si
kemeja abu-abu itu.
Apakah sosok itu menyebutkan nama
Rara di setiap sujudnya atau hanya sebatas mendoakan atau bahkan tak sama
sekali ada Rara dalam barisan doanya ? tak seorangpun tahu termasuk Rara, hanya
Allah dan si manis itulah yang tahu.
Rara tahu bahwa ia telah
membohongi banyak pihak. Ia telah menyembunyikan luka dibalik senyumnya yang
retak. Namun tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain bertopeng dihadapan mereka
semua bahkan dihadapan sosok yang selalu ada dalam setiap sujudnya di sepertiga
malam itu.
“Aku hanya berharap kau takkan
mengerti kepalsuan senyum ini”, ujar Rara dalam hatinya
“Aku selalu ingin melihatmu
tersenyum kepadaku, senyum yang sama seperti senyum yang dulu. Iya senyum yang
dulu kukenal dan tak seorangpun mampu memaknainya”, tambahnya dalam gumaman
hati.
Memang Rara selama ini hanya
berusaha berdiri tegak dan selalu tegar. Tapi cukup untuk diketahui, hatinya
rapuh. Bak bongkahan kayu yang mulai habis termakan rayap.
Rara rapuh. Tapi Rara selalu
berusaha sekuat dan setegar mungkin untuk menghadapi semua ini. Beribu senyuman ia berikan untuk sosok itu,
sahabat-sahabatnya, dan untuk semua yang ada di sampingnya. Walau semuanya
hanya semu dan palsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar