Minggu, 15 Juni 2014

Reaksi Hati dan Batin

Waktu hanya bergulir tanpa pernah menjawab semua tanya Rara. Sampai detik inipun, semua masih sama. Masih mengundang tanya dan air mata. Mungkin Rara sudah tak mengerti apa yang seharusnya ia lakukan. Tanya itu hanya berputar-putar tanpa ada jawabnya.

Rara masih menyimpan rasa yang sama dan tak akan berubah. Tapi Rara takut, Rara ragu akan dia. Ya.. dia yang selama ini Rara sebut dalam sujudnya. Dia yang memiliki sekian jawaban dan semua tanya hati Rara. Dia yang membuat Rara selalu tersenyum walau kadang air mata yang mewakili senyumannya.

“Yakinkan aku. Kuatkan aku”, mungkin hanya itu yang Rara minta.

Namun si laki-laki berkemeja abu-abu itu tak pernah menyadari. Mungkin saja. Rara sama sekali tak pernah mengerti isi hati si manis itu.

“Apakah rasaku dan rasanya masih sama ? Ataukah sudah tak ada lagi rasa itu? Atau malah sudah tergantikan?”, ketakutan Rara semakin membabi buta hari-harinya.

Rara butuh jawaban atas semua tanyanya. Yaa.. jawaban yang mampu menenangkan kegundahan hati yang selama ini memicu air matanya untuk mengalir lagi dan lagi.

Hari ini, ya.. hari ini. Tubuh Rara melemah. Ia terbaring lemah di atas kain hijau sehijau rumput di taman, bergambarkan boneka kesukaan Rara. Ia hanya terbaring, terdiam, merintih, dan menangis. Mungkin kesakitannya tak mampu mengalahkan rasa sakit karena luka di hatinya. Tapi sakitnya cukup menambah sekian luka yang telah menganga. Dengan sangat terpaksa Rara harus menelan beberapa butir obat yang notabennya pahit walau tak sepahit liku kehidupannya.

Rara mencoba untuk duduk di sudut petak itu sembari memandangi kaca jendela yang membawanya melayang, memandangi rintik hujan di luar sana. Rintik hujan itu membawa jiwanya pergi entah kemana. Membawanya mengingat, mengenang, bahkan mungkin menangis untuk kesekiankalinya.

Butiran – butiran bening itu membasahi sedikit lengannya yang sempat ia tengadahkan ke luar untuk sedikit saja merasakan sejuknya butiran bening kesukaannya itu.

Rara memang menyukai hujan. Ia akan merasa lebih tenang ketika butiran bening penuh ketenangan itu membasahi sedikit saja tubuhnya yang mulai lemah. Walau ia tahu butiran bening itu mampu membawa khayal dan jiwanya pergi. Pergi sejenak tuk mengenang sosok itu. Ya.. sosok yang ia sayang yang entah dimana kini.

“Apa kabar hatimu sayang? Masih adakah rasa itu untukku ?”, desah lembut gadis itu.

Desah suara itu takkan terdengar oleh siapapun. Suara itu hanyut, tenggelam oleh suara gemericik air dari langit biru di atas sana. Tenanglah, begitu banyak saksi bisu yang menyaksikan dan mendengarkan. Merekalah saksi kerinduan Rara akan sosok itu. Rindu yang selalu menghampirinya tak kenal waktu. Mereka akan tetap menjadi saksi bisu yang mampu menyimpan segala rahasia ini entah sampai kapan akan menjadi sebuah rahasia.

“Aku rindu, aku benar-benar rindu”, ucapnya di tengah rintik hujan yang mulai mereda.

Butiran bening lainnya mulai menetes dari binar matanya. Bukan butiran air mata perlambangan kelemahannya. Justru air mata perlambang kekuatan dan ketegarannya menyimpan segala rasa yang berkutat di hatinya. Air mata perlambang bahwa ia tak mampu lagi meredam kerinduan.

Ketika ia tak mampu lagi meredam semuanya, yang tersisa adalah kejujuran dari bola matanya. Ya.. kini hanya matalah yang mampu berkata. Sepelik apapun itu semua, sekuat dan setegar apapun Rara menyimpannya. Mata tak akan bisa dibohongi. Ia akan selalu berkata jujur.

“Ya Allah, jaga dia, jaga hatinya, bahagiakan dia. Aku menyayanginya”, sebaris doa yang ia pintakan ditengah rintik hujan yang membasahi lengan kanannya.

Rara tak pernah sekalipun melupakan atau bahkan menghapus si manis itu dari sujud maupun barisan doanya yang setiap saat ia mohonkan kepada sang pembolak-balik hati manusia. Rara yakin dan sangat yakin bahwa Dia tak akan menyia-nyiakan setiap doa yang ia lantunkan dengan tulus, walau ia tak pernah tahu apa yang ada pada sosok si kemeja abu-abu itu.

Apakah sosok itu menyebutkan nama Rara di setiap sujudnya atau hanya sebatas mendoakan atau bahkan tak sama sekali ada Rara dalam barisan doanya ? tak seorangpun tahu termasuk Rara, hanya Allah dan si manis itulah yang tahu.

Rara tahu bahwa ia telah membohongi banyak pihak. Ia telah menyembunyikan luka dibalik senyumnya yang retak. Namun tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain bertopeng dihadapan mereka semua bahkan dihadapan sosok yang selalu ada dalam setiap sujudnya di sepertiga malam itu.

“Aku hanya berharap kau takkan mengerti kepalsuan senyum ini”, ujar Rara dalam hatinya

“Aku selalu ingin melihatmu tersenyum kepadaku, senyum yang sama seperti senyum yang dulu. Iya senyum yang dulu kukenal dan tak seorangpun mampu memaknainya”, tambahnya dalam gumaman hati.

Memang Rara selama ini hanya berusaha berdiri tegak dan selalu tegar. Tapi cukup untuk diketahui, hatinya rapuh. Bak bongkahan kayu yang mulai habis termakan rayap.


Rara rapuh. Tapi Rara selalu berusaha sekuat dan setegar mungkin untuk menghadapi semua ini.  Beribu senyuman ia berikan untuk sosok itu, sahabat-sahabatnya, dan untuk semua yang ada di sampingnya. Walau semuanya hanya semu dan palsu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar