Rabu, 18 Juni 2014

Semangka Kuning

Apa yang terlintas di benak kalian ketika membaca judul di atas ? Biasa saja ? Ataukah ada makna berarti ?

Bagiku semangka kuning adalah perpaduan antara pahit dan manis, suka dan duka, tangis dan tawa. Darinya aku mendapat banyak sekali makna kehidupan. Ia membawaku begitu dekat dengan seseorang yang teramat kusayang. Beliau adalah superheroku yang pertama kali melantunkan asma Allah di daun telinga mungil ini.

Semangka kuning membuatku rindu akan belaian itu. Aku teringat masa kecilku yang sungguh indah. Dalam dekapannya aku selalu berdoa. Dalam pangkuannya aku selalu ingin bercerita. Bahkan dalam lelapku aku ingin selalu bersamanya.

Namun, kini sosok itu tak terlihat lagi. Kedua matanya terpejam, tubuhnya terbujur kaku, dan suhu tubuhnya menurun drastis. Bahkan aku tak melihatnya di kala senja itu. Senja yang selalu kunantikan kehadirannya. Karena bersama senjalah beliau datang memelukku, melayangkan kecupan hangat di dahi dan pipiku, dan membawa kedamaian dalam hati ini.

Senja itu merenggutnya dariku. Aku tak rela, sungguh. Aku masih ingin merasakan pelukannya, mendengarkan ceritanya, dan aku masih ingin sekali bersamanya hingga kelak aku menjadi orang. Agar aku bisa membalas setiap sakit yang kuberi dengan obat yang kupunya. Agar aku bisa mengobati setiap luka yang kuberi dengan balutan kasih sayangku yang tak sebesar kasih sayangnya. Agar aku bisa mengganti setiap bulir air matanya dengan senyumanku. Agar aku selalu bisa memberinya semangka kuning, walau hanya sepotong yang biasanya selalu kau bagi denganku. Tapi tidak untuk kali ini, Potongan itu hanya untuk beliau. Satu potongan itu tak akan mampu menjelaskan betapa sayang dan merindunya aku akan sosok gagahmu.

Kini ragamu tak mampu kulihat lagi. Kau telah menutup matamu untuk selama-lamanya, menghilang, dan tenggelam. Kau lebih memilih menghadiri undangan sang maha pencipta di alam sana. Kau tak bersamaku lagi dalam nyata ragamu, tapi kuyakin kau selalu ada di hati ini. Di relung hati yang tak seorangpun mampu menggantikannya. 

Mungkin kau tak lagi bisa melihatku dengan kedua bola matamu yang indah, mungkin kau tak lagi bisa memberikanku pelukan hangat, dan mungkin kita tak lagi bisa berbagi sepotong semangka kuning itu berdua. Tapi kau selalu melihatku dengan hatimu, memberiku pelukan hangat dengan doamu, dan kelak kita akan tetap berbagi sepotong semangka kuning di sana. Ya di peristirahatan terindah bersama-Nya di sana.

Inilah sepenggal kerinduanku pada sosok ayah. Semangka kuning adalah saksi nyata betapa eratnya kami. Untuk kalian semua, ingatlah walau ayah tak melahirkanmu, tak berjuang nyawa ketika membawamu menatap dunia. Tapi lihatlah betapa gagahnya ayah kalian yang rela berkorban apapun demi kalian, anaknya. Siang malam beliau berjuang untuk kebahagiaanmu dan orang-orang yang beliau sayang. 

Sadarkah kalian betapa hangat pelukannya, betapa indah senyumannya diiringi dengan cucuran keringat di dahinya. Bahkan ayah selalu rela namanya dipanggil pada urutan keempat setelah posisi satu, dua, dan tiga diisi oleh ibu.

Beruntunglah kalian yang masih memilikinya, masih bisa mendekap erat tubuhnya, masih bisa mendapatkan senyum terindahnya setiap saat. Jaga beliau dan jangan sia-siakan. Beliau adalah penopang hidup. Tanpanya kau tak akan melihat dunia secerah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar