Aku terbangun bersama kokok ayam. Aku tenggelam bersama datangnya senja.
Tapi aku di sini masih denganmu dan dengan rasaku yang mendalam untukmu. Namun,
semakin dalam rasaku tenggelam dan merasuk dalam kalbu. Duri-duri di tangkai
mawarpun menyertainya. Duri yang menusuk tanpa permisi. Duri yang melukai dan
menyakiti.
Mungkin tak seorangpun menyadarinya. Bahkan kaupun tak akan mengerti.
Akupun berusaha memalingkan hati dan mataku darinya. Dia yang kusebut duri,
menusuk dan melukai. Dia tidak akan menduduki tahtamu di hati ini, tapi aku
takut dia menduduki tahtaku di hatimu. Aku tak ingin rasa takut ini
menguasaiku. Sungguh tak ingin.
Tiapku melihatnya, sakit itu menusuk dan membuat hatiku menangis.
Biarlah aku yang mengerti dan memendamnya sendiri tanpa perlu kau tahu.
Perbincanganmu dengannya seringkali tak enak untuk sekedar berlalu lalang di
gendang telinga ini. Seakan mengantarkan getaran yang semakin menyesakkan dada.
Inginku berpaling, inginku berkata, inginku menangis kepadamu. Tapi itu
semua tak kulakukan. Walau sakit, walau perih, biarlah. Biar saja hatiku
menangis, asalkan aku masih punya sejuta senyum untukmu. Biarlah air mata ini
mengalir di gelapnya malam tanpa secercah cahaya lampu dan sujudku di atas
sajadah itu. Biar saja senyumku menutupi semua luka yang menganga karena duri
di tangkai itu. Biar saja..
Duduk bersila sembari menikmati senja bersama dinginnya hujan.
Kutengadahkan kedua telapak tanganku untuk sekedar menikmati sedikit saja
rintik hujan yang selalu bisa mandamaikan reaksi hati yang sedang
bergejolak. Reaksi yang semakin cepat dan eksotermis karena duri itu.
Bulir-bulir bening itu seolah mengerti segala konflik batin yang ada.
Kau dan duri tak akan mengerti luka di relung ini. Luka yang kadang membuatku
ingin menangis bahkan menyerah. Tapi aku tak akan menyerah, sesakit apapun duri
itu melukai, sedalam apapun ia menyayat, dan selama apapun dia bertahan sampai
tangkai itu layu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar