Hai kamu...
Maaf kuteteskan kembali air mata ini karenamu. Sekali lagi maaf.
Benteng ini begitu tinggi kubangun, begitu kokoh tercipta hingga aku lupa bagaimana rasa ini terhadapmu, hingga aku lupa bagaimana kau membuat semuanya berubah 180 derajat sejak kala itu.
Terlalu banyak yang mendekat, Bung. Aku kesulitan untuk menghindar. Maukah kau menolongku, Bung ?. Beberapa merasa nyaman denganku, tapi tidak denganku terhadapnya. Satu yang membuatku begitu nyaman, namun tidak lebih dari sebatas kakak.
Aku kelu, Bung. Sangat kelu bahkan untuk sekedar bercerita kepada ibuku. Sejak ceritaku bersamamu tak lagi menjadi topik pembicaraan, aku enggan untuk menceritakan orang lain kepadanya. Walau rasanya tak kuasa lagi ku membendung segala keluh kesahku. Aku takut beliau menjadi sedih karenaku atau juga karenamu.
Aku sedang bingung, Bung. Kebingungan bagaimana harus melangkah, aku terjerembab terlalu jauh. Jauh dari mana-mana yang selalu kujaga. Bahkan, ditengah risauku, engkau ada namun hanya ilusi. Sebatas bunga tidur yang tak bisa kupercaya seratus persen.
Oiya, aku bermimpi tentangmu malam itu. Bahagia rasanya kau kembali, namun, semuanya hanya mimpi. Disana seperti nyata, Bung. Nyata sekali. Terlebih saat aku kembali memilihmu dan selalu tetap memilihmu. Tapi, tak berharap banyak terhadapmu, Bung. Karena aku tahu itu semua hanya akan merobohkan benteng pertahananku. Maafkan aku. Benteng ini gak akan bisa kau runtuhkan hingga kau benar-benar menjadikanku tempatmu kembali.
Terima kasih untuk tawa dan banyak tangis selama ini. Sebentar lagi kita akan berpisah jarak dan waktu. Semoga selalu ada alasan untukmu pulang, Bung. Walau benteng ini kuat, namun percayalah kunci gemboknya ada dalam hatimu. Kembalilah, pulanglah saat kau siap :)
Kamis, 30 Juni 2016
Sabtu, 02 April 2016
Ingin merengkuhnya lagi
Haii.. aku rindu..
Ingin sekali menyapamu, menyapa dalam derap langkah kita yang semakin menjauh. Ingin sekali bersandar di bahumu, bahu ternyaman yang pernah kusinggahi untuk menumpahkan segala tangisku.
Ingin sekali melihatmu tertawa lagi karenaku.
Ingin sekali bersamamu (lagi) tuk meraih impian yang belum kita raih kala itu.
Mungkin kau bertanya untuk apa ?
Apa perlu aku menjawab ? Cobalah tanyakan pada hatimu. Hati mana yang paling nyaman tuk kau singgahi. Jika Allah memang mengizinkanku untuk menunggumu lebih lama lagi, aku ikhlas. Namun, jika Allah memberi jawaban terburuk atas ini, aku hanya ingin memaafkan. Memaafkanmu dengan segala yang telah kau lakukan tanpa penjelasan.
Tak inginkah kau kembali merengkuh dayung ini bersama ? Agar perahu ini tiba di pelabuhan tepat pada waktunya. Aku ingin mendayung bersamamu (lagi).
Jika kau berkenan, temui aku di persinggahan itu. Mari kita mendayung bersama kembali :)
Ingin sekali menyapamu, menyapa dalam derap langkah kita yang semakin menjauh. Ingin sekali bersandar di bahumu, bahu ternyaman yang pernah kusinggahi untuk menumpahkan segala tangisku.
Ingin sekali melihatmu tertawa lagi karenaku.
Ingin sekali bersamamu (lagi) tuk meraih impian yang belum kita raih kala itu.
Mungkin kau bertanya untuk apa ?
Apa perlu aku menjawab ? Cobalah tanyakan pada hatimu. Hati mana yang paling nyaman tuk kau singgahi. Jika Allah memang mengizinkanku untuk menunggumu lebih lama lagi, aku ikhlas. Namun, jika Allah memberi jawaban terburuk atas ini, aku hanya ingin memaafkan. Memaafkanmu dengan segala yang telah kau lakukan tanpa penjelasan.
Tak inginkah kau kembali merengkuh dayung ini bersama ? Agar perahu ini tiba di pelabuhan tepat pada waktunya. Aku ingin mendayung bersamamu (lagi).
Jika kau berkenan, temui aku di persinggahan itu. Mari kita mendayung bersama kembali :)
Minggu, 27 Maret 2016
Temui Aku di Pelabuhan Itu
Selamat malam pemberi senyum terindahku..
Bagaimana kabarmu ? Bagaimana kabar hatimu ?
Kurasa kau sedikit merasa lebih bebas sejak hari ini. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Hari ini kau resmi melepas secercah beban dipundakmu. Selamat ya, bisa dibilang I'm proud of having someone special like you. Someone special ? Are you feeling the same ? Hopely :)
Sekali lagi selamat atas kejayaanmu memimpin, walau memakan waktuku hingga hampir 500 hari menunggumu. Lelah ? Iya. Ingin menyerah ? Tentu tidak. Aku masih berdiri di sini atas keyakinanku atasmu Bung, atas semua ketetapan-Nya untuk kita. Walaupun, aku tak pernah tahu apa yang kau lakukan di sana. Masihkah dengan hati yang sama atau bahkan sudah berkali-kali mengisi hati dengannya-selain aku ?
Kalau kau bertanya hal yang sama kepadaku, sepertinya aku tak akan pernah menjelaskan. Seperti yang kau lihat, aku masih sama dengan sekitar hampir 500 hari yang lalu. Kadang terlintas di benakku mengapa aku begitu rela melakukan ini semua untukmu yang masih abu di mataku bahkan semua orang. Sampai saat ini pun aku tak tahu apa jawabnya, walau dengan segala keyakinan bahwa setiap tanya pasti ada jawabnya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku merindu, tentu sampai batas aku tak dapat merasakan rindu lagi.
Jangan bertanya sampai batas mana aku menyimpan rasa, tentu sampai batas aku tak dapat ruang kosong lagi untuk menyimpannya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku ingin menunggu, tentu sampai batas pada akhirnya engkau tak akan datang kembali.
Jangan bertanya sampai batas mana aku mendo'akanmu, tentu sampai batas terdekatku dengan-Nya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku menjaga, tentu sampai batas kau tetap merasa terjaga di dalam benakku.
Banyak yang harus kau tahu tentang aku, kamu, hatiku, hatimu, dan segala ceritanya kelak, Bung. Maka, temuilah aku di pelabuhan tempat kita selalu singgah untuk bersua. Temuilah aku sebelum aku habis daya hingga tak sanggup menjelaskan apapun. Tak mungkin aku mengambil langkah untuk menemuimu, Bung. Bagiku kau yang wajib kembali dengan segala penjelasan yang selalu aku nantikan. Ku harap kau pahami.
~Aku yang menunggumu di pelabuhan itu~
Bagaimana kabarmu ? Bagaimana kabar hatimu ?
Kurasa kau sedikit merasa lebih bebas sejak hari ini. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Hari ini kau resmi melepas secercah beban dipundakmu. Selamat ya, bisa dibilang I'm proud of having someone special like you. Someone special ? Are you feeling the same ? Hopely :)
Sekali lagi selamat atas kejayaanmu memimpin, walau memakan waktuku hingga hampir 500 hari menunggumu. Lelah ? Iya. Ingin menyerah ? Tentu tidak. Aku masih berdiri di sini atas keyakinanku atasmu Bung, atas semua ketetapan-Nya untuk kita. Walaupun, aku tak pernah tahu apa yang kau lakukan di sana. Masihkah dengan hati yang sama atau bahkan sudah berkali-kali mengisi hati dengannya-selain aku ?
Kalau kau bertanya hal yang sama kepadaku, sepertinya aku tak akan pernah menjelaskan. Seperti yang kau lihat, aku masih sama dengan sekitar hampir 500 hari yang lalu. Kadang terlintas di benakku mengapa aku begitu rela melakukan ini semua untukmu yang masih abu di mataku bahkan semua orang. Sampai saat ini pun aku tak tahu apa jawabnya, walau dengan segala keyakinan bahwa setiap tanya pasti ada jawabnya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku merindu, tentu sampai batas aku tak dapat merasakan rindu lagi.
Jangan bertanya sampai batas mana aku menyimpan rasa, tentu sampai batas aku tak dapat ruang kosong lagi untuk menyimpannya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku ingin menunggu, tentu sampai batas pada akhirnya engkau tak akan datang kembali.
Jangan bertanya sampai batas mana aku mendo'akanmu, tentu sampai batas terdekatku dengan-Nya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku menjaga, tentu sampai batas kau tetap merasa terjaga di dalam benakku.
Banyak yang harus kau tahu tentang aku, kamu, hatiku, hatimu, dan segala ceritanya kelak, Bung. Maka, temuilah aku di pelabuhan tempat kita selalu singgah untuk bersua. Temuilah aku sebelum aku habis daya hingga tak sanggup menjelaskan apapun. Tak mungkin aku mengambil langkah untuk menemuimu, Bung. Bagiku kau yang wajib kembali dengan segala penjelasan yang selalu aku nantikan. Ku harap kau pahami.
~Aku yang menunggumu di pelabuhan itu~
Sabtu, 19 Maret 2016
Imajinasiku Malam Ini
Hai selamat petang menjelang pagi datang :)
Hai kamu yang selalu kurindu dan kusemogakan :)
Apa kabarmu ? Apa kau baik-baik saja ?
Hari ini aku kembali menginjakkan kaki di kota dan tempat dimana kau dan aku bertemu. Terasa rindu, rindu sekali, rindu yang semakin mendalam. Menjelma di setiap kata yang kutulis, menjelma di setiap air mata yang menetes malam ini.
Aku sedang bersama dengan seorang sahabat jiwaku, menyapa rindu. Menghentikannya tuk sementara. Karena kuyakin salah satu jalan untuk meredam rindu adalah bertemu. Lantas bagaimana aku meredam rinduku padamu, Bung ? Haruskah aku menemuimu ? Tak kuasa aku bertemu, walau hati sangat ingin kau sapa walau sejenak.
Semalam ini aku berbincang dengan sahabat jiwaku. Memberi ribuan ekspektasi untuk ribuan kejadian setelah hari ini. Aku tahu bahwa ekspektasi tak selalu benar. Bisa jadi itu harapan semata. Tapi kuyakini jalanNya dalam hidupku, itulah yang terbaik.
Seketika satu kalimat terlontar dari bibirku,"menurutmu apa yang akan terjadi setelah dia menyelesaikan amanahnya ?". Kukatakan dengan diksi yang tak perlu basa basi.
"Aku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi", katanya.
Memang, kalau aku bertanya balik pada akal, jiwa, dan hatiku. Tak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan singkat itu.
"Terkadang aku berfikir, kenapa dia seperti itu hanya padamu. Lantas kepada yang lain tidak. Kalau hanya sekedar menjaga popularitas jujur rasanya aku berat untuk pro dengannya", katanya.
"Sempat tertanam pemikiran negatif itu", jawabku.
"Jahat", celetuknya.
Sempat kuberfikir kau begitu kejamnya, kita berjalan berdua beriringan di masa kau di bawah. Mengapa saat kau di puncak kau sama sekali tak menyapaku ? Apalagi mengingatku. Apakah kau sadar akan hal itu ?
Bukan aku menuntut. Tidak. Aku sama sekali tidak menuntut. Bukankah kau tahu kemana arah pemikiran dan pendapatku tentangmu, juga tentang masa depan kita. Tak usah kau ragu akan hal ituu. Akan tetap dan selalu tetap sama. Aku mencintai dan menyayangimu setulus hati ini.
Aku masih terus mengasah otakku untuk berimajinasi dan berekspektasi akan apa yang akan terjadi pada kita, lebih tepatnya pada hubungan kita. Apakah akan sesuai dengan rencana yang kita buat ? Atau hilang begitu saja tanpa kepastian diakhirnya.
Kalau memang semuanya jauh dari ekspektasi dan harapanku, aku hanya berdo'a agar Allah memberiku obat terbaik dan termujarab untuk menyembuhkan semua luka dan duka yang mendarah daging dalam diriku. Dan satu hal, aku berjanji akan belajar melupakanmu, walaupun terseok dan terjerembab ke dalam kenangan yang tak ingin terhentikan bagai rintik hujan yang selalu membasahi bumi.
Hai kamu yang selalu kurindu dan kusemogakan :)
Apa kabarmu ? Apa kau baik-baik saja ?
Hari ini aku kembali menginjakkan kaki di kota dan tempat dimana kau dan aku bertemu. Terasa rindu, rindu sekali, rindu yang semakin mendalam. Menjelma di setiap kata yang kutulis, menjelma di setiap air mata yang menetes malam ini.
Aku sedang bersama dengan seorang sahabat jiwaku, menyapa rindu. Menghentikannya tuk sementara. Karena kuyakin salah satu jalan untuk meredam rindu adalah bertemu. Lantas bagaimana aku meredam rinduku padamu, Bung ? Haruskah aku menemuimu ? Tak kuasa aku bertemu, walau hati sangat ingin kau sapa walau sejenak.
Semalam ini aku berbincang dengan sahabat jiwaku. Memberi ribuan ekspektasi untuk ribuan kejadian setelah hari ini. Aku tahu bahwa ekspektasi tak selalu benar. Bisa jadi itu harapan semata. Tapi kuyakini jalanNya dalam hidupku, itulah yang terbaik.
Seketika satu kalimat terlontar dari bibirku,"menurutmu apa yang akan terjadi setelah dia menyelesaikan amanahnya ?". Kukatakan dengan diksi yang tak perlu basa basi.
"Aku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi", katanya.
Memang, kalau aku bertanya balik pada akal, jiwa, dan hatiku. Tak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan singkat itu.
"Terkadang aku berfikir, kenapa dia seperti itu hanya padamu. Lantas kepada yang lain tidak. Kalau hanya sekedar menjaga popularitas jujur rasanya aku berat untuk pro dengannya", katanya.
"Sempat tertanam pemikiran negatif itu", jawabku.
"Jahat", celetuknya.
Sempat kuberfikir kau begitu kejamnya, kita berjalan berdua beriringan di masa kau di bawah. Mengapa saat kau di puncak kau sama sekali tak menyapaku ? Apalagi mengingatku. Apakah kau sadar akan hal itu ?
Bukan aku menuntut. Tidak. Aku sama sekali tidak menuntut. Bukankah kau tahu kemana arah pemikiran dan pendapatku tentangmu, juga tentang masa depan kita. Tak usah kau ragu akan hal ituu. Akan tetap dan selalu tetap sama. Aku mencintai dan menyayangimu setulus hati ini.
Aku masih terus mengasah otakku untuk berimajinasi dan berekspektasi akan apa yang akan terjadi pada kita, lebih tepatnya pada hubungan kita. Apakah akan sesuai dengan rencana yang kita buat ? Atau hilang begitu saja tanpa kepastian diakhirnya.
Kalau memang semuanya jauh dari ekspektasi dan harapanku, aku hanya berdo'a agar Allah memberiku obat terbaik dan termujarab untuk menyembuhkan semua luka dan duka yang mendarah daging dalam diriku. Dan satu hal, aku berjanji akan belajar melupakanmu, walaupun terseok dan terjerembab ke dalam kenangan yang tak ingin terhentikan bagai rintik hujan yang selalu membasahi bumi.
Minggu, 14 Februari 2016
Tears
Hai, malam.....
Selamat bermalam senin dan selamat memahat mimpi dalam dekapan malam.
Boleh aku bercerita kembali ?
Tentu saja. Aku menguntai panjangnya cerita bukan untuk mengumbar rasa sakitku. Bukan. Aku bercerita agar kau tahu dan akupun merasa lega.
Kau ingat dimana pertama kali kita berfoto bersandingan dan berdua saja ? hopely, you remember. Walaupun aku tahu daya ingat lelaki tak sebagus daya ingat wanita. Kalau kau lupa, oke aku ingatkan.
Hello, bagaimana bisa kau tak ingat, saat itu kau mengenakan kostum kebanggaan futsal kelas kita dan memakai jaket yang bukan hanya sekali ku pakai dan ku hafal aromanya. Yaaa, disitu aku mengenakan baju bersejarah masa-masa orientasi kita di kampus. Oh nampaknya kau mulai ingat ? Yuk yuk ingat lagi...
Saat itu, niatnya aku ingin berfoto dengan tim futsal kelas. Namun seolah mereka semua paham akhirnya merekapun menyingkir satu persatu. Yeah akhirnya tersisa kita berdua yang bersandingan dan lantas one, two, three ciisss tersenyum.
Hey bahagia sekali rasanya saat itu. Namun tidak untuk tahun kedua dan ketiga. Tahun kedua masaku di kampus, ajang olahraga itupun digelar kembali. Dan disitu sedang ada konflik antara kau dan aku. Sedih sekali tak bisa mengulang masa tahun pertama, masa dimana kita foto berdua untuk pertama kalinya. Sudahlah lupakan. Aku tak ingin banyak mengungkit cerita tragis layaknya sinetron itu.
Kembali ke topik ya, aku hanya ingin bercerita. Bercerita tentang air mataku yang mengucur deras malam itu. Malam itu, tepat dimana piala resmi disabet oleh tim mu dan itu sebuah penghargaan terakhir yang sangat mengharukan di detik-detik terakhir kebersamaan kita (re=kelas). Saat itu pertandingan antar keluarga kembali terulang dan seolah tak ingin jatuh di lubang yang sama, tim futsal kelas kita berjuang dengan semangat menggelora untuk mencetak goal. Akhirnya terjadilah menit-menit menegangkan saat ternyata pertandingan menghasilkan skor seri. Hingga wasit memutuskan untuk pinalty. Pinalty pun berlangsung sengit. Para wanita anggota kelaspun menangis histeris seraya memohon. Seolah-olah mereka hanya ingin juara sebagai penutup masa kita di kampus. Tak kurang kucuran air mata dan keringat.k
Pada akhirnya, pertandingan antar keluarga itupun dimenangkan oleh tim mu, yeah tim futsal kelas kita. Dan finally, kita bisa mempersembahkan yang terakhir yang paling mengharukan.
Setelah pertandingan selesai dilanjutkan dengan pembagian hadiah, dan juga euforia warga kampuspun menggema di gelanggang olahraga kampus. Termasuk isakan tangisku malam itu.
Aku berdiri tepat 2 meter di belakangmu, aku melihat kau duduk letih sambil mengulurkan kaki. Aku tahu betapa hebatnya perjuanganmu tadi. Aku tak kunjung menghampirimu. Bukan sebab aku tak ingin. Aku ingin sekali.. tapi kurasa tidak, tak patut aku menghampiri kau yang bukan siapa-siapa lagi. Walau semua orang tahu rasaku masih akan selalu sama.
10 menit berlalu, aku hanya memandang. Memandangmu dari jarak yang tak terlalu jauh namun dengan lalu lalang mahasiswa yang mengganggu. Hey, aku melihat ada yang datang. Entah untukmu atau untuk yang lain. Dan ternyata ia datang menghampirimu dengan jarak tak kurang 30 cm, ia berbincang denganmu. Cukuplah kau sayat hatiku. Cukup. Cukup untuk semuanya. Kalau kau menyayatnya dengan belati mungkin aku sudah terkapar tak bernyawa. Sayangnya kau menyayatnya bukan dengan pisau ataupun belati, kau tahu itu lebih menyakitkan.
Apa kau tahu air mataku mengucur lebih deras tanpa kusadari ? apa kau tahu hatiku menangis berteriak meronta ? Apa kau tahu sahabat-sahabatku memeluk erat badanku yang terus meronta dan mulutku yang terus berucap kau jahat ? Apa kau tahu aku pulang dengan segerombolan orang yang berusaha melindungiku dari sakit hati akibat kau ? Apa kau tahu semua itu ? Lantas kalau memang kau tahu dan mengerti, mengapa kau diam saja ? Mengapa tak kau obati aku ? Mengapa ?
Kau tahu, sejak saat itu. Aku berjanji, tak akan ada air mata yang lebih deras dari air mata malam itu. Dan tak akan ada hati yang lebih terluka dari hatiku malam itu. Tak akan ada kamu yang lebih jahat dari kamu di malam itu. Apapun yang kelak terjadi sejak malam itu kuanggap biasa saja dan tidak lebih menyakitkan dari malam itu. Terima kasih telah pernah memberiku luka yang sebegitu dalam dan tak pernah peduli akan luka itu. Terima kasih sudah mematahkan hati yang begitu tulus dan merusak semua yang 'pas' antara aku dan kau. Terima kasih telah menjadikan hati ini mati untuk siapapun kecuali kau.
Terima kasih, mungkin hanya kata itu yang akan ku ucap saat kau bertanya mengapa malam itu aku menangis. Sayangnya kau sama sekali tak menanyakan...
Selamat bermalam senin dan selamat memahat mimpi dalam dekapan malam.
Boleh aku bercerita kembali ?
Tentu saja. Aku menguntai panjangnya cerita bukan untuk mengumbar rasa sakitku. Bukan. Aku bercerita agar kau tahu dan akupun merasa lega.
Kau ingat dimana pertama kali kita berfoto bersandingan dan berdua saja ? hopely, you remember. Walaupun aku tahu daya ingat lelaki tak sebagus daya ingat wanita. Kalau kau lupa, oke aku ingatkan.
Hello, bagaimana bisa kau tak ingat, saat itu kau mengenakan kostum kebanggaan futsal kelas kita dan memakai jaket yang bukan hanya sekali ku pakai dan ku hafal aromanya. Yaaa, disitu aku mengenakan baju bersejarah masa-masa orientasi kita di kampus. Oh nampaknya kau mulai ingat ? Yuk yuk ingat lagi...
Saat itu, niatnya aku ingin berfoto dengan tim futsal kelas. Namun seolah mereka semua paham akhirnya merekapun menyingkir satu persatu. Yeah akhirnya tersisa kita berdua yang bersandingan dan lantas one, two, three ciisss tersenyum.
Hey bahagia sekali rasanya saat itu. Namun tidak untuk tahun kedua dan ketiga. Tahun kedua masaku di kampus, ajang olahraga itupun digelar kembali. Dan disitu sedang ada konflik antara kau dan aku. Sedih sekali tak bisa mengulang masa tahun pertama, masa dimana kita foto berdua untuk pertama kalinya. Sudahlah lupakan. Aku tak ingin banyak mengungkit cerita tragis layaknya sinetron itu.
Kembali ke topik ya, aku hanya ingin bercerita. Bercerita tentang air mataku yang mengucur deras malam itu. Malam itu, tepat dimana piala resmi disabet oleh tim mu dan itu sebuah penghargaan terakhir yang sangat mengharukan di detik-detik terakhir kebersamaan kita (re=kelas). Saat itu pertandingan antar keluarga kembali terulang dan seolah tak ingin jatuh di lubang yang sama, tim futsal kelas kita berjuang dengan semangat menggelora untuk mencetak goal. Akhirnya terjadilah menit-menit menegangkan saat ternyata pertandingan menghasilkan skor seri. Hingga wasit memutuskan untuk pinalty. Pinalty pun berlangsung sengit. Para wanita anggota kelaspun menangis histeris seraya memohon. Seolah-olah mereka hanya ingin juara sebagai penutup masa kita di kampus. Tak kurang kucuran air mata dan keringat.k
Pada akhirnya, pertandingan antar keluarga itupun dimenangkan oleh tim mu, yeah tim futsal kelas kita. Dan finally, kita bisa mempersembahkan yang terakhir yang paling mengharukan.
Setelah pertandingan selesai dilanjutkan dengan pembagian hadiah, dan juga euforia warga kampuspun menggema di gelanggang olahraga kampus. Termasuk isakan tangisku malam itu.
Aku berdiri tepat 2 meter di belakangmu, aku melihat kau duduk letih sambil mengulurkan kaki. Aku tahu betapa hebatnya perjuanganmu tadi. Aku tak kunjung menghampirimu. Bukan sebab aku tak ingin. Aku ingin sekali.. tapi kurasa tidak, tak patut aku menghampiri kau yang bukan siapa-siapa lagi. Walau semua orang tahu rasaku masih akan selalu sama.
10 menit berlalu, aku hanya memandang. Memandangmu dari jarak yang tak terlalu jauh namun dengan lalu lalang mahasiswa yang mengganggu. Hey, aku melihat ada yang datang. Entah untukmu atau untuk yang lain. Dan ternyata ia datang menghampirimu dengan jarak tak kurang 30 cm, ia berbincang denganmu. Cukuplah kau sayat hatiku. Cukup. Cukup untuk semuanya. Kalau kau menyayatnya dengan belati mungkin aku sudah terkapar tak bernyawa. Sayangnya kau menyayatnya bukan dengan pisau ataupun belati, kau tahu itu lebih menyakitkan.
Apa kau tahu air mataku mengucur lebih deras tanpa kusadari ? apa kau tahu hatiku menangis berteriak meronta ? Apa kau tahu sahabat-sahabatku memeluk erat badanku yang terus meronta dan mulutku yang terus berucap kau jahat ? Apa kau tahu aku pulang dengan segerombolan orang yang berusaha melindungiku dari sakit hati akibat kau ? Apa kau tahu semua itu ? Lantas kalau memang kau tahu dan mengerti, mengapa kau diam saja ? Mengapa tak kau obati aku ? Mengapa ?
Kau tahu, sejak saat itu. Aku berjanji, tak akan ada air mata yang lebih deras dari air mata malam itu. Dan tak akan ada hati yang lebih terluka dari hatiku malam itu. Tak akan ada kamu yang lebih jahat dari kamu di malam itu. Apapun yang kelak terjadi sejak malam itu kuanggap biasa saja dan tidak lebih menyakitkan dari malam itu. Terima kasih telah pernah memberiku luka yang sebegitu dalam dan tak pernah peduli akan luka itu. Terima kasih sudah mematahkan hati yang begitu tulus dan merusak semua yang 'pas' antara aku dan kau. Terima kasih telah menjadikan hati ini mati untuk siapapun kecuali kau.
Terima kasih, mungkin hanya kata itu yang akan ku ucap saat kau bertanya mengapa malam itu aku menangis. Sayangnya kau sama sekali tak menanyakan...
Jumat, 05 Februari 2016
You have to know
Haii, selamat malam, malam diiringi rintik hujan kenangan. Aku masih dengan hati yang sama. Hati yang tlah mati untuk yang lain, namun tidak untukmu.
Boleh aku bercerita sedikit saja ? Sedikit memberitahumu tentang hati yang tlah lama tergores olehnya. Bukan kamu, iya bukan kamu yang menikam. Temanmu, teman dekatmu. Tapi kamu yang membiarkannya menganga, Bung. Iya kamu selalu diam beronggang-onggang kaki, sedangkan di sini sedang ada hati yang tergores. Kemana kamu Bung ? Kemana ? Apa lantas ini yang kau sebut cinta dan sayang ?
Temanmu, iya satu dari teman dekatmu kerap kali menyakitiku. Tidak satu atau dua kali. Mungkin sudah ratusan kali ia menikam hati ini dengan pisaunya. Sakit memang, tapi aku bisa apa ? Kaupun tak pernah membelaku, setidaknya memberi hatiku obat sedikit saja untuk mengurangi sakit.
Kamu tahu tentu, tak mungkin kamu tak tahu. Kebohongan publik kalau kau bilang kau tak tahu apapun tentang hatiku yang semakin lama semakin ingin menyerah. Sampai kapan bung kau biarkan lukaku menganga seperti ini. Aku tak memintamu untuk kembali menjadi malaikat penolongku setiap saat. Tapi tolonglah untuk menyembuhkan luka ini sebentar saja.
Akupun tak ingin menyita banyak waktumu, karena saat ini pun aku tak ingin meluangkan banyak waktu untukmu. Apa kau sama dengan mereka ? Mereka yang menganggapku trauma. Iya aku trauma bung, trauma dengan semua hal tentangmu. Akupun tak kuasa membuka dan menghidupkan hatiku kembali dengan cinta yang baru. Aku tak bisa.
Kau bilang aku lebay ? Kau bilang aku berlebihan ? Terserah. Apapun yang kau kata, aku tak peduli.
Asal kau tahu Bung. Temanmu, iya sekali lagi teman dekatmu yang kerap kali menyebutmu partner. Itu menyakitkan Bung. Ia selalu saja mengungkit cerita tentangmu, di saat aku ada di dekatnya. Apa kau ingat aku sangat tidak menyukai tahu tentangmu dari orang lain ? Tentu saja kau ingat. Iya inilah sekarang yang kurasakan. Aku terus-terusan mendengar ceritamu dari orang lain, kerap kali darinya yang mungkin dengan sengaja menceritakannya. Aku rasa kau bisa merasakan selebar apa luka yang ia goreskan Bung.
Tolong sedikit saja sembuhkan luka ini kalau memang kau belum bisa kembali untuk saat ini. Luka ini menganga terlalu lama Bung.
Boleh aku bercerita sedikit saja ? Sedikit memberitahumu tentang hati yang tlah lama tergores olehnya. Bukan kamu, iya bukan kamu yang menikam. Temanmu, teman dekatmu. Tapi kamu yang membiarkannya menganga, Bung. Iya kamu selalu diam beronggang-onggang kaki, sedangkan di sini sedang ada hati yang tergores. Kemana kamu Bung ? Kemana ? Apa lantas ini yang kau sebut cinta dan sayang ?
Temanmu, iya satu dari teman dekatmu kerap kali menyakitiku. Tidak satu atau dua kali. Mungkin sudah ratusan kali ia menikam hati ini dengan pisaunya. Sakit memang, tapi aku bisa apa ? Kaupun tak pernah membelaku, setidaknya memberi hatiku obat sedikit saja untuk mengurangi sakit.
Kamu tahu tentu, tak mungkin kamu tak tahu. Kebohongan publik kalau kau bilang kau tak tahu apapun tentang hatiku yang semakin lama semakin ingin menyerah. Sampai kapan bung kau biarkan lukaku menganga seperti ini. Aku tak memintamu untuk kembali menjadi malaikat penolongku setiap saat. Tapi tolonglah untuk menyembuhkan luka ini sebentar saja.
Akupun tak ingin menyita banyak waktumu, karena saat ini pun aku tak ingin meluangkan banyak waktu untukmu. Apa kau sama dengan mereka ? Mereka yang menganggapku trauma. Iya aku trauma bung, trauma dengan semua hal tentangmu. Akupun tak kuasa membuka dan menghidupkan hatiku kembali dengan cinta yang baru. Aku tak bisa.
Kau bilang aku lebay ? Kau bilang aku berlebihan ? Terserah. Apapun yang kau kata, aku tak peduli.
Asal kau tahu Bung. Temanmu, iya sekali lagi teman dekatmu yang kerap kali menyebutmu partner. Itu menyakitkan Bung. Ia selalu saja mengungkit cerita tentangmu, di saat aku ada di dekatnya. Apa kau ingat aku sangat tidak menyukai tahu tentangmu dari orang lain ? Tentu saja kau ingat. Iya inilah sekarang yang kurasakan. Aku terus-terusan mendengar ceritamu dari orang lain, kerap kali darinya yang mungkin dengan sengaja menceritakannya. Aku rasa kau bisa merasakan selebar apa luka yang ia goreskan Bung.
Tolong sedikit saja sembuhkan luka ini kalau memang kau belum bisa kembali untuk saat ini. Luka ini menganga terlalu lama Bung.
Kamis, 28 Januari 2016
Hai, aku kembali...
Kembali dengan goresan tinta juga goresan hati. Maafkan aku.
Hai, aku ingat sejenak 27 november 2014 lalu. Sejak saat itu, tak ada kurasa bahagia yang begitu 'pas'. Kata 'pas' mungkin hanya untuk kita, kita dengan segala tangis dan tawa. Dan entah kemana kata itu pergi. Mungkin pergi bersamamu, turut berjuang di luar sana.
Maaf kuucap, hingga kini tak ada dayaku tuk lupa atau pura-pura lupa tentangmu dan tentang kita.
Heii, begitu banyak perih yang kau berikan beberapa waktu ini. Ingatkah kamu disaat kau bercerita arti keikhlasan ?. Beberapa senja dan mentari kemarin aku berhasil mengikhlaskan segala sesuatunya dan selalu mencoba merapihkan puing kenangan yang masih berceceran. Tapi apa dayaku ?
Kau kembali dengan sebuah sapaan hangat, hei kau pikir kau siapa hah ? ku ingat sapaan hangatmu yang menyapaku yang sedang ingin berlari jauh melupakan semua yang terjadi. Saat itu aku sedang duduk menatap kosong ke samping melihat bangunan-bangunan yang gagah berdiri. Oya saat itu aku sedang menikmati perjalananku mengobati luka, aku sedang duduk di sebuah gerbong kereta cantik yang membawaku sampai dengan selamat ke tempat peraduanku.
Sapaanmu berhenti sampai di sana saja. Kemudian detik demi detik kulewati. Kau kembali menyapa. Hei kembali kuberfikir, kau ini siapa ? Datang dan pergi begitu saja.
Sapaanmu kembali hadir dikala gema takbir berkumandang. Iya, itu hari suci untuk umat Islam, hari raya idul fitri. Tak ingin kuterbuai, hanya saja perlu kau ketahui, aku 'sudah' memaafkanmu setiap hari bahkan sebelum kau meminta.
Pernahkah kau berfikir akan rindu ? Apa kau tidak pernah merasakannya ? Hei betapa bodohnya aku yang selalu rindu. Tapi tak ada gunanya pun aku mengutuk diriku sendiri untuk rindu yang tak kunjung usai. Hei bung, apapun tentangmu terlalu dalam kau tanamkan dalam jiwaku. Bagaimana mungkin aku lupa akan semua itu ?
Apa yang kau tahu tentangku ataupun hatiku ? Tak ada kurasa. Kau hanya menengok lalu pergi begitu saja. Semaumu kau datang dan pergi. Hei apa kau tahu siapa orang-orang yang menghapus air mataku ? Kurasa kau tak peduli.
Hei apa kau tahu siapa saja yang datang berusaha membahagiakan aku setelahmu ? Tapi semuanya lalu lalang begitu saja, aku tak tertarik. Sama sekali tak tertarik. Kadang aku berfikir aku melukai mereka. Namun apa dayaku ? Tentangmu masih menjadi obrolan yang menarik dalam sujudku.
Semoga kau membaca tulisan-tulisan di blog yang berdebu ini. Karena tak lebih tak kurang, banyak sekali kuungkap tentangmu dan tentangku.
Kembali dengan goresan tinta juga goresan hati. Maafkan aku.
Hai, aku ingat sejenak 27 november 2014 lalu. Sejak saat itu, tak ada kurasa bahagia yang begitu 'pas'. Kata 'pas' mungkin hanya untuk kita, kita dengan segala tangis dan tawa. Dan entah kemana kata itu pergi. Mungkin pergi bersamamu, turut berjuang di luar sana.
Maaf kuucap, hingga kini tak ada dayaku tuk lupa atau pura-pura lupa tentangmu dan tentang kita.
Heii, begitu banyak perih yang kau berikan beberapa waktu ini. Ingatkah kamu disaat kau bercerita arti keikhlasan ?. Beberapa senja dan mentari kemarin aku berhasil mengikhlaskan segala sesuatunya dan selalu mencoba merapihkan puing kenangan yang masih berceceran. Tapi apa dayaku ?
Kau kembali dengan sebuah sapaan hangat, hei kau pikir kau siapa hah ? ku ingat sapaan hangatmu yang menyapaku yang sedang ingin berlari jauh melupakan semua yang terjadi. Saat itu aku sedang duduk menatap kosong ke samping melihat bangunan-bangunan yang gagah berdiri. Oya saat itu aku sedang menikmati perjalananku mengobati luka, aku sedang duduk di sebuah gerbong kereta cantik yang membawaku sampai dengan selamat ke tempat peraduanku.
Sapaanmu berhenti sampai di sana saja. Kemudian detik demi detik kulewati. Kau kembali menyapa. Hei kembali kuberfikir, kau ini siapa ? Datang dan pergi begitu saja.
Sapaanmu kembali hadir dikala gema takbir berkumandang. Iya, itu hari suci untuk umat Islam, hari raya idul fitri. Tak ingin kuterbuai, hanya saja perlu kau ketahui, aku 'sudah' memaafkanmu setiap hari bahkan sebelum kau meminta.
Pernahkah kau berfikir akan rindu ? Apa kau tidak pernah merasakannya ? Hei betapa bodohnya aku yang selalu rindu. Tapi tak ada gunanya pun aku mengutuk diriku sendiri untuk rindu yang tak kunjung usai. Hei bung, apapun tentangmu terlalu dalam kau tanamkan dalam jiwaku. Bagaimana mungkin aku lupa akan semua itu ?
Apa yang kau tahu tentangku ataupun hatiku ? Tak ada kurasa. Kau hanya menengok lalu pergi begitu saja. Semaumu kau datang dan pergi. Hei apa kau tahu siapa orang-orang yang menghapus air mataku ? Kurasa kau tak peduli.
Hei apa kau tahu siapa saja yang datang berusaha membahagiakan aku setelahmu ? Tapi semuanya lalu lalang begitu saja, aku tak tertarik. Sama sekali tak tertarik. Kadang aku berfikir aku melukai mereka. Namun apa dayaku ? Tentangmu masih menjadi obrolan yang menarik dalam sujudku.
Semoga kau membaca tulisan-tulisan di blog yang berdebu ini. Karena tak lebih tak kurang, banyak sekali kuungkap tentangmu dan tentangku.
Langganan:
Komentar (Atom)