Hai, malam.....
Selamat bermalam senin dan selamat memahat mimpi dalam dekapan malam.
Boleh aku bercerita kembali ?
Tentu saja. Aku menguntai panjangnya cerita bukan untuk mengumbar rasa sakitku. Bukan. Aku bercerita agar kau tahu dan akupun merasa lega.
Kau ingat dimana pertama kali kita berfoto bersandingan dan berdua saja ? hopely, you remember. Walaupun aku tahu daya ingat lelaki tak sebagus daya ingat wanita. Kalau kau lupa, oke aku ingatkan.
Hello, bagaimana bisa kau tak ingat, saat itu kau mengenakan kostum kebanggaan futsal kelas kita dan memakai jaket yang bukan hanya sekali ku pakai dan ku hafal aromanya. Yaaa, disitu aku mengenakan baju bersejarah masa-masa orientasi kita di kampus. Oh nampaknya kau mulai ingat ? Yuk yuk ingat lagi...
Saat itu, niatnya aku ingin berfoto dengan tim futsal kelas. Namun seolah mereka semua paham akhirnya merekapun menyingkir satu persatu. Yeah akhirnya tersisa kita berdua yang bersandingan dan lantas one, two, three ciisss tersenyum.
Hey bahagia sekali rasanya saat itu. Namun tidak untuk tahun kedua dan ketiga. Tahun kedua masaku di kampus, ajang olahraga itupun digelar kembali. Dan disitu sedang ada konflik antara kau dan aku. Sedih sekali tak bisa mengulang masa tahun pertama, masa dimana kita foto berdua untuk pertama kalinya. Sudahlah lupakan. Aku tak ingin banyak mengungkit cerita tragis layaknya sinetron itu.
Kembali ke topik ya, aku hanya ingin bercerita. Bercerita tentang air mataku yang mengucur deras malam itu. Malam itu, tepat dimana piala resmi disabet oleh tim mu dan itu sebuah penghargaan terakhir yang sangat mengharukan di detik-detik terakhir kebersamaan kita (re=kelas). Saat itu pertandingan antar keluarga kembali terulang dan seolah tak ingin jatuh di lubang yang sama, tim futsal kelas kita berjuang dengan semangat menggelora untuk mencetak goal. Akhirnya terjadilah menit-menit menegangkan saat ternyata pertandingan menghasilkan skor seri. Hingga wasit memutuskan untuk pinalty. Pinalty pun berlangsung sengit. Para wanita anggota kelaspun menangis histeris seraya memohon. Seolah-olah mereka hanya ingin juara sebagai penutup masa kita di kampus. Tak kurang kucuran air mata dan keringat.k
Pada akhirnya, pertandingan antar keluarga itupun dimenangkan oleh tim mu, yeah tim futsal kelas kita. Dan finally, kita bisa mempersembahkan yang terakhir yang paling mengharukan.
Setelah pertandingan selesai dilanjutkan dengan pembagian hadiah, dan juga euforia warga kampuspun menggema di gelanggang olahraga kampus. Termasuk isakan tangisku malam itu.
Aku berdiri tepat 2 meter di belakangmu, aku melihat kau duduk letih sambil mengulurkan kaki. Aku tahu betapa hebatnya perjuanganmu tadi. Aku tak kunjung menghampirimu. Bukan sebab aku tak ingin. Aku ingin sekali.. tapi kurasa tidak, tak patut aku menghampiri kau yang bukan siapa-siapa lagi. Walau semua orang tahu rasaku masih akan selalu sama.
10 menit berlalu, aku hanya memandang. Memandangmu dari jarak yang tak terlalu jauh namun dengan lalu lalang mahasiswa yang mengganggu. Hey, aku melihat ada yang datang. Entah untukmu atau untuk yang lain. Dan ternyata ia datang menghampirimu dengan jarak tak kurang 30 cm, ia berbincang denganmu. Cukuplah kau sayat hatiku. Cukup. Cukup untuk semuanya. Kalau kau menyayatnya dengan belati mungkin aku sudah terkapar tak bernyawa. Sayangnya kau menyayatnya bukan dengan pisau ataupun belati, kau tahu itu lebih menyakitkan.
Apa kau tahu air mataku mengucur lebih deras tanpa kusadari ? apa kau tahu hatiku menangis berteriak meronta ? Apa kau tahu sahabat-sahabatku memeluk erat badanku yang terus meronta dan mulutku yang terus berucap kau jahat ? Apa kau tahu aku pulang dengan segerombolan orang yang berusaha melindungiku dari sakit hati akibat kau ? Apa kau tahu semua itu ? Lantas kalau memang kau tahu dan mengerti, mengapa kau diam saja ? Mengapa tak kau obati aku ? Mengapa ?
Kau tahu, sejak saat itu. Aku berjanji, tak akan ada air mata yang lebih deras dari air mata malam itu. Dan tak akan ada hati yang lebih terluka dari hatiku malam itu. Tak akan ada kamu yang lebih jahat dari kamu di malam itu. Apapun yang kelak terjadi sejak malam itu kuanggap biasa saja dan tidak lebih menyakitkan dari malam itu. Terima kasih telah pernah memberiku luka yang sebegitu dalam dan tak pernah peduli akan luka itu. Terima kasih sudah mematahkan hati yang begitu tulus dan merusak semua yang 'pas' antara aku dan kau. Terima kasih telah menjadikan hati ini mati untuk siapapun kecuali kau.
Terima kasih, mungkin hanya kata itu yang akan ku ucap saat kau bertanya mengapa malam itu aku menangis. Sayangnya kau sama sekali tak menanyakan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar