Hai selamat petang menjelang pagi datang :)
Hai kamu yang selalu kurindu dan kusemogakan :)
Apa kabarmu ? Apa kau baik-baik saja ?
Hari ini aku kembali menginjakkan kaki di kota dan tempat dimana kau dan aku bertemu. Terasa rindu, rindu sekali, rindu yang semakin mendalam. Menjelma di setiap kata yang kutulis, menjelma di setiap air mata yang menetes malam ini.
Aku sedang bersama dengan seorang sahabat jiwaku, menyapa rindu. Menghentikannya tuk sementara. Karena kuyakin salah satu jalan untuk meredam rindu adalah bertemu. Lantas bagaimana aku meredam rinduku padamu, Bung ? Haruskah aku menemuimu ? Tak kuasa aku bertemu, walau hati sangat ingin kau sapa walau sejenak.
Semalam ini aku berbincang dengan sahabat jiwaku. Memberi ribuan ekspektasi untuk ribuan kejadian setelah hari ini. Aku tahu bahwa ekspektasi tak selalu benar. Bisa jadi itu harapan semata. Tapi kuyakini jalanNya dalam hidupku, itulah yang terbaik.
Seketika satu kalimat terlontar dari bibirku,"menurutmu apa yang akan terjadi setelah dia menyelesaikan amanahnya ?". Kukatakan dengan diksi yang tak perlu basa basi.
"Aku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi", katanya.
Memang, kalau aku bertanya balik pada akal, jiwa, dan hatiku. Tak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan singkat itu.
"Terkadang aku berfikir, kenapa dia seperti itu hanya padamu. Lantas kepada yang lain tidak. Kalau hanya sekedar menjaga popularitas jujur rasanya aku berat untuk pro dengannya", katanya.
"Sempat tertanam pemikiran negatif itu", jawabku.
"Jahat", celetuknya.
Sempat kuberfikir kau begitu kejamnya, kita berjalan berdua beriringan di masa kau di bawah. Mengapa saat kau di puncak kau sama sekali tak menyapaku ? Apalagi mengingatku. Apakah kau sadar akan hal itu ?
Bukan aku menuntut. Tidak. Aku sama sekali tidak menuntut. Bukankah kau tahu kemana arah pemikiran dan pendapatku tentangmu, juga tentang masa depan kita. Tak usah kau ragu akan hal ituu. Akan tetap dan selalu tetap sama. Aku mencintai dan menyayangimu setulus hati ini.
Aku masih terus mengasah otakku untuk berimajinasi dan berekspektasi akan apa yang akan terjadi pada kita, lebih tepatnya pada hubungan kita. Apakah akan sesuai dengan rencana yang kita buat ? Atau hilang begitu saja tanpa kepastian diakhirnya.
Kalau memang semuanya jauh dari ekspektasi dan harapanku, aku hanya berdo'a agar Allah memberiku obat terbaik dan termujarab untuk menyembuhkan semua luka dan duka yang mendarah daging dalam diriku. Dan satu hal, aku berjanji akan belajar melupakanmu, walaupun terseok dan terjerembab ke dalam kenangan yang tak ingin terhentikan bagai rintik hujan yang selalu membasahi bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar