Kamis, 28 Januari 2016

Hai, aku kembali...
Kembali dengan goresan tinta juga goresan hati. Maafkan aku.

Hai, aku ingat sejenak 27 november 2014 lalu. Sejak saat itu, tak ada kurasa bahagia yang begitu 'pas'. Kata 'pas' mungkin hanya untuk kita, kita dengan segala tangis dan tawa. Dan entah kemana kata itu pergi. Mungkin pergi bersamamu, turut berjuang di luar sana.

Maaf kuucap, hingga kini tak ada dayaku tuk lupa atau pura-pura lupa tentangmu dan tentang kita.

Heii, begitu banyak perih yang kau berikan beberapa waktu ini. Ingatkah kamu disaat kau bercerita arti keikhlasan ?. Beberapa senja dan mentari kemarin aku berhasil mengikhlaskan segala sesuatunya dan selalu mencoba merapihkan puing kenangan yang masih berceceran. Tapi apa dayaku ?

Kau kembali dengan sebuah sapaan hangat, hei kau pikir kau siapa hah ? ku ingat sapaan hangatmu yang menyapaku yang sedang ingin berlari jauh melupakan semua yang terjadi. Saat itu aku sedang duduk menatap kosong ke samping melihat bangunan-bangunan yang gagah berdiri. Oya saat itu aku sedang menikmati perjalananku mengobati luka, aku sedang duduk di sebuah gerbong kereta cantik yang membawaku sampai dengan selamat ke tempat peraduanku.

Sapaanmu berhenti sampai di sana saja. Kemudian detik demi detik kulewati. Kau kembali menyapa. Hei kembali kuberfikir, kau ini siapa ? Datang dan pergi begitu saja.

Sapaanmu kembali hadir dikala gema takbir berkumandang. Iya, itu hari suci untuk umat Islam, hari raya idul fitri. Tak ingin kuterbuai, hanya saja perlu kau ketahui, aku 'sudah' memaafkanmu setiap hari bahkan sebelum kau meminta.

Pernahkah kau berfikir akan rindu ? Apa kau tidak pernah merasakannya ? Hei betapa bodohnya aku yang selalu rindu. Tapi tak ada gunanya pun aku mengutuk diriku sendiri untuk rindu yang tak kunjung usai. Hei bung, apapun tentangmu terlalu dalam kau tanamkan dalam jiwaku. Bagaimana mungkin aku lupa akan semua itu ?

Apa yang kau tahu tentangku ataupun hatiku ? Tak ada kurasa. Kau hanya menengok lalu pergi begitu saja. Semaumu kau datang dan pergi. Hei apa kau tahu siapa orang-orang yang menghapus air mataku ? Kurasa kau tak peduli.
Hei apa kau tahu siapa saja yang datang berusaha membahagiakan aku setelahmu ? Tapi semuanya lalu lalang begitu saja, aku tak tertarik. Sama sekali tak tertarik. Kadang aku berfikir aku melukai mereka. Namun apa dayaku ? Tentangmu masih menjadi obrolan yang menarik dalam sujudku.

Semoga kau membaca tulisan-tulisan di blog yang berdebu ini. Karena tak lebih tak kurang, banyak sekali kuungkap tentangmu dan tentangku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar