Selamat malam pemberi senyum terindahku..
Bagaimana kabarmu ? Bagaimana kabar hatimu ?
Kurasa kau sedikit merasa lebih bebas sejak hari ini. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Hari ini kau resmi melepas secercah beban dipundakmu. Selamat ya, bisa dibilang I'm proud of having someone special like you. Someone special ? Are you feeling the same ? Hopely :)
Sekali lagi selamat atas kejayaanmu memimpin, walau memakan waktuku hingga hampir 500 hari menunggumu. Lelah ? Iya. Ingin menyerah ? Tentu tidak. Aku masih berdiri di sini atas keyakinanku atasmu Bung, atas semua ketetapan-Nya untuk kita. Walaupun, aku tak pernah tahu apa yang kau lakukan di sana. Masihkah dengan hati yang sama atau bahkan sudah berkali-kali mengisi hati dengannya-selain aku ?
Kalau kau bertanya hal yang sama kepadaku, sepertinya aku tak akan pernah menjelaskan. Seperti yang kau lihat, aku masih sama dengan sekitar hampir 500 hari yang lalu. Kadang terlintas di benakku mengapa aku begitu rela melakukan ini semua untukmu yang masih abu di mataku bahkan semua orang. Sampai saat ini pun aku tak tahu apa jawabnya, walau dengan segala keyakinan bahwa setiap tanya pasti ada jawabnya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku merindu, tentu sampai batas aku tak dapat merasakan rindu lagi.
Jangan bertanya sampai batas mana aku menyimpan rasa, tentu sampai batas aku tak dapat ruang kosong lagi untuk menyimpannya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku ingin menunggu, tentu sampai batas pada akhirnya engkau tak akan datang kembali.
Jangan bertanya sampai batas mana aku mendo'akanmu, tentu sampai batas terdekatku dengan-Nya.
Jangan bertanya sampai batas mana aku menjaga, tentu sampai batas kau tetap merasa terjaga di dalam benakku.
Banyak yang harus kau tahu tentang aku, kamu, hatiku, hatimu, dan segala ceritanya kelak, Bung. Maka, temuilah aku di pelabuhan tempat kita selalu singgah untuk bersua. Temuilah aku sebelum aku habis daya hingga tak sanggup menjelaskan apapun. Tak mungkin aku mengambil langkah untuk menemuimu, Bung. Bagiku kau yang wajib kembali dengan segala penjelasan yang selalu aku nantikan. Ku harap kau pahami.
~Aku yang menunggumu di pelabuhan itu~
Minggu, 27 Maret 2016
Sabtu, 19 Maret 2016
Imajinasiku Malam Ini
Hai selamat petang menjelang pagi datang :)
Hai kamu yang selalu kurindu dan kusemogakan :)
Apa kabarmu ? Apa kau baik-baik saja ?
Hari ini aku kembali menginjakkan kaki di kota dan tempat dimana kau dan aku bertemu. Terasa rindu, rindu sekali, rindu yang semakin mendalam. Menjelma di setiap kata yang kutulis, menjelma di setiap air mata yang menetes malam ini.
Aku sedang bersama dengan seorang sahabat jiwaku, menyapa rindu. Menghentikannya tuk sementara. Karena kuyakin salah satu jalan untuk meredam rindu adalah bertemu. Lantas bagaimana aku meredam rinduku padamu, Bung ? Haruskah aku menemuimu ? Tak kuasa aku bertemu, walau hati sangat ingin kau sapa walau sejenak.
Semalam ini aku berbincang dengan sahabat jiwaku. Memberi ribuan ekspektasi untuk ribuan kejadian setelah hari ini. Aku tahu bahwa ekspektasi tak selalu benar. Bisa jadi itu harapan semata. Tapi kuyakini jalanNya dalam hidupku, itulah yang terbaik.
Seketika satu kalimat terlontar dari bibirku,"menurutmu apa yang akan terjadi setelah dia menyelesaikan amanahnya ?". Kukatakan dengan diksi yang tak perlu basa basi.
"Aku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi", katanya.
Memang, kalau aku bertanya balik pada akal, jiwa, dan hatiku. Tak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan singkat itu.
"Terkadang aku berfikir, kenapa dia seperti itu hanya padamu. Lantas kepada yang lain tidak. Kalau hanya sekedar menjaga popularitas jujur rasanya aku berat untuk pro dengannya", katanya.
"Sempat tertanam pemikiran negatif itu", jawabku.
"Jahat", celetuknya.
Sempat kuberfikir kau begitu kejamnya, kita berjalan berdua beriringan di masa kau di bawah. Mengapa saat kau di puncak kau sama sekali tak menyapaku ? Apalagi mengingatku. Apakah kau sadar akan hal itu ?
Bukan aku menuntut. Tidak. Aku sama sekali tidak menuntut. Bukankah kau tahu kemana arah pemikiran dan pendapatku tentangmu, juga tentang masa depan kita. Tak usah kau ragu akan hal ituu. Akan tetap dan selalu tetap sama. Aku mencintai dan menyayangimu setulus hati ini.
Aku masih terus mengasah otakku untuk berimajinasi dan berekspektasi akan apa yang akan terjadi pada kita, lebih tepatnya pada hubungan kita. Apakah akan sesuai dengan rencana yang kita buat ? Atau hilang begitu saja tanpa kepastian diakhirnya.
Kalau memang semuanya jauh dari ekspektasi dan harapanku, aku hanya berdo'a agar Allah memberiku obat terbaik dan termujarab untuk menyembuhkan semua luka dan duka yang mendarah daging dalam diriku. Dan satu hal, aku berjanji akan belajar melupakanmu, walaupun terseok dan terjerembab ke dalam kenangan yang tak ingin terhentikan bagai rintik hujan yang selalu membasahi bumi.
Hai kamu yang selalu kurindu dan kusemogakan :)
Apa kabarmu ? Apa kau baik-baik saja ?
Hari ini aku kembali menginjakkan kaki di kota dan tempat dimana kau dan aku bertemu. Terasa rindu, rindu sekali, rindu yang semakin mendalam. Menjelma di setiap kata yang kutulis, menjelma di setiap air mata yang menetes malam ini.
Aku sedang bersama dengan seorang sahabat jiwaku, menyapa rindu. Menghentikannya tuk sementara. Karena kuyakin salah satu jalan untuk meredam rindu adalah bertemu. Lantas bagaimana aku meredam rinduku padamu, Bung ? Haruskah aku menemuimu ? Tak kuasa aku bertemu, walau hati sangat ingin kau sapa walau sejenak.
Semalam ini aku berbincang dengan sahabat jiwaku. Memberi ribuan ekspektasi untuk ribuan kejadian setelah hari ini. Aku tahu bahwa ekspektasi tak selalu benar. Bisa jadi itu harapan semata. Tapi kuyakini jalanNya dalam hidupku, itulah yang terbaik.
Seketika satu kalimat terlontar dari bibirku,"menurutmu apa yang akan terjadi setelah dia menyelesaikan amanahnya ?". Kukatakan dengan diksi yang tak perlu basa basi.
"Aku tidak bisa menerka apa yang akan terjadi", katanya.
Memang, kalau aku bertanya balik pada akal, jiwa, dan hatiku. Tak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan singkat itu.
"Terkadang aku berfikir, kenapa dia seperti itu hanya padamu. Lantas kepada yang lain tidak. Kalau hanya sekedar menjaga popularitas jujur rasanya aku berat untuk pro dengannya", katanya.
"Sempat tertanam pemikiran negatif itu", jawabku.
"Jahat", celetuknya.
Sempat kuberfikir kau begitu kejamnya, kita berjalan berdua beriringan di masa kau di bawah. Mengapa saat kau di puncak kau sama sekali tak menyapaku ? Apalagi mengingatku. Apakah kau sadar akan hal itu ?
Bukan aku menuntut. Tidak. Aku sama sekali tidak menuntut. Bukankah kau tahu kemana arah pemikiran dan pendapatku tentangmu, juga tentang masa depan kita. Tak usah kau ragu akan hal ituu. Akan tetap dan selalu tetap sama. Aku mencintai dan menyayangimu setulus hati ini.
Aku masih terus mengasah otakku untuk berimajinasi dan berekspektasi akan apa yang akan terjadi pada kita, lebih tepatnya pada hubungan kita. Apakah akan sesuai dengan rencana yang kita buat ? Atau hilang begitu saja tanpa kepastian diakhirnya.
Kalau memang semuanya jauh dari ekspektasi dan harapanku, aku hanya berdo'a agar Allah memberiku obat terbaik dan termujarab untuk menyembuhkan semua luka dan duka yang mendarah daging dalam diriku. Dan satu hal, aku berjanji akan belajar melupakanmu, walaupun terseok dan terjerembab ke dalam kenangan yang tak ingin terhentikan bagai rintik hujan yang selalu membasahi bumi.
Langganan:
Komentar (Atom)