Kamis, 31 Juli 2014

Kau Jahat !!!


Apa aku pantas menyebutmu jahat ? Apa aku pantas tetap memberimu senyum ketika kau hadir seperti ini ?



Apa boleh aku berkata jika kau bertindak semaumu, pergi semaumu, mengingatku semaumu, dan melupakanku semaumu pula.



Tapi banyak yang harus kau tahu. Ketika setiap kali aku menangis saat otak ini tak mampu menghilangkan bayanganmu, Ketika hati ini menanyakan kabarmu, Dan ketika raga ini tak mampu lagi berdiri tegak saat memandang senyummu dalam bingkai foto itu.



Ketika setiap kali aku tersenyum mendengar desah suaramu yang sama sekali tak indah, ketika kau mulai membual dengan kata-kata yang sederhana saat kumulai enggan untuk tertawa, ketika kau menyapaku saat aku mulai merasa kehilanganmu.



Seolah-olah engkau hadir membuatku tersenyum lantas engkau pergi, walau aku tau kau tak akan pergi selamanya. Kau hanya pergi untuk sementara, entah untuk apa yang tak pernah aku tau.



Terkadang aku bertanya pada hatiku,"apa kau mempermainkanku?"



Hati kecilku menjawab,"tidak. Tidak akan"



"Apa kau akan menyianyiakanku?"



Lagi lagi jawaban itu,"tidak. Tidak akan"



Dan ketika kuingin bertanya,"apa kau akan meninggalkanku?"



Hati kecilku masih saja menjawab,"tidak. Tidak akan"


Lantas, haruskah aku percaya dengan hati kecilku ? Iya, aku harus percaya. Bagaimana mungkin bertahan ketika kepercayaan itu mulai tergerus oleh terpaan hujan. 

Aku yakin dan akan tetap yakin. Kau tak akan pergi lagi meninggalkanku. Kau tak akan menghilang lagi. Kau akan kembali lagi untukku.

Yang terpenting, kau disini sekarang, disisiku dan akan tetap disisiku. Kita akan berjalan bersama, bergandengan tangan menjemput mimpi kita. Kita aku bersama, saling merangkul dalam doa.

Rabu, 16 Juli 2014

Biar Saja !!!

Aku terbangun bersama kokok ayam. Aku tenggelam bersama datangnya senja. Tapi aku di sini masih denganmu dan dengan rasaku yang mendalam untukmu. Namun, semakin dalam rasaku tenggelam dan merasuk dalam kalbu. Duri-duri di tangkai mawarpun menyertainya. Duri yang menusuk tanpa permisi. Duri yang melukai dan menyakiti.

Mungkin tak seorangpun menyadarinya. Bahkan kaupun tak akan mengerti. Akupun berusaha memalingkan hati dan mataku darinya. Dia yang kusebut duri, menusuk dan melukai. Dia tidak akan menduduki tahtamu di hati ini, tapi aku takut dia menduduki tahtaku di hatimu. Aku tak ingin rasa takut ini menguasaiku. Sungguh tak ingin.

Tiapku melihatnya, sakit itu menusuk dan membuat hatiku menangis. Biarlah aku yang mengerti dan memendamnya sendiri tanpa perlu kau tahu. Perbincanganmu dengannya seringkali tak enak untuk sekedar berlalu lalang di gendang telinga ini. Seakan mengantarkan getaran yang semakin menyesakkan dada.

Inginku berpaling, inginku berkata, inginku menangis kepadamu. Tapi itu semua tak kulakukan. Walau sakit, walau perih, biarlah. Biar saja hatiku menangis, asalkan aku masih punya sejuta senyum untukmu. Biarlah air mata ini mengalir di gelapnya malam tanpa secercah cahaya lampu dan sujudku di atas sajadah itu. Biar saja senyumku menutupi semua luka yang menganga karena duri di tangkai itu. Biar saja..

Duduk bersila sembari menikmati senja bersama dinginnya hujan. Kutengadahkan kedua telapak tanganku untuk sekedar menikmati sedikit saja rintik hujan yang selalu bisa mandamaikan reaksi hati yang sedang bergejolak. Reaksi yang semakin cepat dan eksotermis karena duri itu. Bulir-bulir bening itu seolah mengerti segala konflik batin yang ada.


Kau dan duri tak akan mengerti luka di relung ini. Luka yang kadang membuatku ingin menangis bahkan menyerah. Tapi aku tak akan menyerah, sesakit apapun duri itu melukai, sedalam apapun ia menyayat, dan selama apapun dia bertahan sampai tangkai itu layu.