Kamis, 30 Juni 2016

Pulanglah~

Hai kamu...
Maaf kuteteskan kembali air mata ini karenamu. Sekali lagi maaf.

Benteng ini begitu tinggi kubangun, begitu kokoh tercipta hingga aku lupa bagaimana rasa ini terhadapmu, hingga aku lupa bagaimana kau membuat semuanya berubah 180 derajat sejak kala itu.

Terlalu banyak yang mendekat, Bung. Aku kesulitan untuk menghindar. Maukah kau menolongku, Bung ?. Beberapa merasa nyaman denganku, tapi tidak denganku terhadapnya. Satu yang membuatku begitu nyaman, namun tidak lebih dari sebatas kakak.

Aku kelu, Bung. Sangat kelu bahkan untuk sekedar bercerita kepada ibuku. Sejak ceritaku bersamamu tak lagi menjadi topik pembicaraan, aku enggan untuk menceritakan orang lain kepadanya. Walau rasanya tak kuasa lagi ku membendung segala keluh kesahku. Aku takut beliau menjadi sedih karenaku atau juga karenamu.

Aku sedang bingung, Bung. Kebingungan bagaimana harus melangkah, aku terjerembab terlalu jauh. Jauh dari mana-mana yang selalu kujaga. Bahkan, ditengah risauku, engkau ada namun hanya ilusi. Sebatas bunga tidur yang tak bisa kupercaya seratus persen.

Oiya, aku bermimpi tentangmu malam itu. Bahagia rasanya kau kembali, namun, semuanya hanya mimpi. Disana seperti nyata, Bung. Nyata sekali. Terlebih saat aku kembali memilihmu dan selalu tetap memilihmu. Tapi, tak berharap banyak terhadapmu, Bung. Karena aku tahu itu semua hanya akan merobohkan benteng pertahananku. Maafkan aku. Benteng ini gak akan bisa kau runtuhkan hingga kau benar-benar menjadikanku tempatmu kembali.

Terima kasih untuk tawa dan banyak tangis selama ini. Sebentar lagi kita akan berpisah jarak dan waktu. Semoga selalu ada alasan untukmu pulang, Bung. Walau benteng ini kuat, namun percayalah kunci gemboknya ada dalam hatimu. Kembalilah, pulanglah saat kau siap :)